PART 1-Sepotong Roti di Pagi Itu

Sepotong Roti di Pagi Itu

Pagi itu mulai dengan cara yang salah.

Aku terbangun bukan karena alarm, bukan karena suara motor lewat depan rumah.
Aku terbangun karena… bau roti hangat yang memenuhi seluruh kamar.
Padahal aku tidak pernah membuat apa pun sebelum mandi.

“Siapa yang masak?” gumamku sambil menegakkan badan.

Sunyi.

Hanya suara kipas yang berputar pelan.

Aku tinggal sendirian. Rumahku kecil—ruang tamu, dapur, satu kamar, kamar mandi. Tidak banyak tempat untuk orang lain sembunyi. Karena itulah aroma roti itu membuat tengkukku terasa dingin.

Aku bangkit, membuka pintu kamar.

Koridor kecil menuju dapur tampak gelap, seperti selalu.
Lampu lorong ini aneh—baru diganti seminggu lalu, tapi cahayanya tetap redup, seolah lorongnya menelan cahaya.

Aroma roti makin jelas.

Hangat. Manis. Ada bau mentega yang baru meleleh.

Langkahku melambat.
Aku memanggil, dengan suara ragu:

“Halo? Ada orang?”

Tidak ada jawaban.

Tapi aku mendengar barang jatuh di dapur—bunyi kecil, seperti piring yang bergeser sendiri.

Tok.

Aku hampir membalikkkan badan dan keluar dari rumah.
Tapi kakiku seolah tidak mau mundur.

Aku memaksa diri maju, dan ketika sampai di ambang pintu dapur… aku terhenyak.

Di atas meja makan kecil yang biasa aku pakai sendirian, ada sepiring roti tawar.
Dua potong.

Satu masih utuh.
Satu lagi robek seperti sudah pernah disentuh seseorang.

Di sampingnya, satu gelas susu. Uapnya naik tipis—baru diseduh.

Aku menelan ludah.

“Ini… siapa yang nyiapin?” gumamku, suara hampir pecah.

Tidak mungkin maling.
Tidak mungkin tetangga.
Tidak mungkin siapa pun.

Aku melangkah masuk. Lantai terasa dingin luar biasa, seperti baru diguyur air.

Aku baru menyadari sesuatu:

Ada jejak kaki.
Basah.
Kecil.
Menuju ke sudut dapur, ke bawah meja.

Aku menggigit bibir.

“Jangan bercanda…”
Suara sendiri terdengar asing di kupingku.

Aku memaksa mengintip ke bawah meja.

Dan di sana…

Seseorang sedang duduk berjongkok.

Rambutnya panjang, kusut, menutupi hampir seluruh wajah.
Pakaiannya seperti gaun tidur lama—warna putih yang kusam kecokelatan.
Kulitnya… pucat biru, seperti tubuh yang lama berada di air.

Kakinya—ya Tuhan—masih meneteskan air, menciptakan jejak basah ke arahku.

Dia sedang meremas roti dengan tangan gemetar.

Aku mendadak mundur setapak.

Dia pelan-pelan mengangkat wajah.

Matanya hitam, sangat hitam, tanpa pantulan apa pun.
Air menetes dari bulu matanya.

Dia tersenyum.

Senyuman yang lebih seperti tarikan paksa daripada ekspresi bahagia.

“A… apa yang kamu lakukan di rumahku?” tanyaku, suaraku pecah.

Dia menunduk sedikit, suaranya lirih seperti suara air menetes.

“Aku cuma… aku cuma ingin sarapan bersama…”

Tangannya terangkat pelan, memperlihatkan roti yang hampir hancur diremasnya.

“Aku buatkan… buat kamu…”

Aku makin mundur.

“Nggak… nggak usah dekat-dekat. Kamu siapa?”

Dia tidak menjawab.
Hanya menatapku—lama, sangat lama, seolah mencoba membaca pikiranku.

Lalu dia berkata pelan:

“Dulu… dia tidak mau makan bersamaku.”

Aku terdiam. “Siapa?”

Perempuan itu menatap kosong.

“Suamiku.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku mati… dalam dapur ini,” lanjutnya.
“Tepat di bawah meja. Saat membuat sarapan. Seperti ini.”

Aku langsung merinding seluruh tubuh.

Dia kemudian merangkak keluar dari bawah meja—perlahan, menyeret gaunnya yang basah, meninggalkan jejak air di lantai.

“Aku sendirian… sangat lama…”
Suaranya pecah, menggigil.

“Lalu kamu pindah ke sini.”
Dia tersenyum lebar.
“Dan kamu selalu sarapan sendirian. Sama seperti aku dulu.”

Aku memutar badan hendak lari.

Tapi tiba-tiba dapur menjadi gelap.
Lampu padam.
Hanya ada suara napas berat di belakangku.

“Aku cuma ingin… teman makan.”

Aku gemetar.

“Jangan dekat-dekat…”
Nafasku memburu.

Dia mendekat.
Aku bisa mendengar tetesan air dari tubuhnya jatuh ke lantai.

Tetes.
Tetes.
Tetes.

“Ayo… duduk. Sarapan dulu.”
Suara itu tepat di belakang telingaku.

Aku meremas gagang pintu dapur, mencoba membuka.
Terkunci.
Padahal tidak pernah aku kunci sebelumnya.

Tok… tok… tok.
Ketukan dari dalam lemari dapur terdengar.

Suara lain.
Suara yang berbeda.
Suara yang… lebih berat.

“Kau bawa teman baru?” suara dari lemari bertanya pelan.

Aku berhenti bernapas.

Perempuan itu tertawa—pelan, retak, dan tidak manusiawi.

“Sekarang… kita tidak makan sendirian lagi.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR