CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

MISTERI POCONG DI POJOK KAMPUNG 

Jam menunjukkan 02.30 WIB ketika Bu Su menenteng baskom adonan dan berjalan melewati gang kecil menuju pasar. Malam terasa lebih pekat dari biasanya. Lampu pos dekat rumah Mbok Lasmi berkedip-kedip seperti sekarat.

Bu Su bergumam,

“Lampu ini nggak diganti-ganti, dari kemarin redup saja…”

Saat ia mendekat, langkahnya mendadak berhenti.

Di bawah lampu pos yang rusak itu berdiri sebuah sosok putih. Kain panjang menggantung, tubuhnya kaku. Kepala sosok itu miring, seolah sedang memperhatikan Bu Su.

Bu Su mengusap matanya cepat-cepat.

“Jangan-jangan cuma bayangan…?” gumamnya.

Tapi tidak. Sosok itu bergeser sedikit. Seperti melayang.
Bu Su menutup mulutnya agar tidak menjerit.

“Ya Allah… pocong…!”

Sontak ia melempar baskom adonan dan berlari sekencang mungkin keluar kampung.

Dari belakang, terdengar lirih:

“Huuu… huu…”

Bu Su terpeleset, hampir jatuh, lalu bangkit lagi dan terus lari sampai rumah.


Pagi itu, Kampung Sumberjati tidak seperti biasanya. Para warga berkumpul di depan rumah Bu Su yang masih pucat dan gemetar.

Pak Lurah bertanya,

“Jadi betul, Bu Su lihat pocong?”

“I-iya, Pak… jelas sekali. Tinggi… putih… ngadep saya.”

Pak Su masuk ke kerumunan sambil menggaruk kepala.

“Saya jam segitu lewat juga. Nggak ada apa-apa. Sepi banget malah.”

Bu Su membanting sendok.

“Lho, saya lihat! Masak saya bohong?!”

Warga saling berbisik.

“Kenapa Bu Su lihat, tapi Pak Su nggak?”
“Jangan-jangan Bu Su lagi ngantuk.”

Tapi Bu Su bersumpah.

“Demi Allah saya lihat!”

Kerumunan makin tegang. Sejak ada warga meninggal dua hari lalu, suasana kampung memang sudah tidak nyaman.


Rumah terdekat dengan lokasi penampakan adalah milik Mbok Lasmi, nenek tua yang hidup sendirian. Usianya hampir 80 tahun, tapi semangatnya mengalahkan orang muda.

Beberapa warga menghampirinya.

“Mbok, semalam ada pocong di depan rumah njenengan.”

Mbok Lasmi malah tertawa sambil mengibas selendang.

“Kalau setan beneran, sudah dari dulu datang ke rumahku. Aku tinggal sendirian bertahun-tahun, kok belum pernah ketemu?”

“Tapi Bu Su lihat sendiri, Mbok.”

“Ya biar dia lihat. Kalau aku sih… wong tiap hari di masjid jam tiga pagi, nggak pernah ketemu apa-apa.”

Seorang pemuda bertanya takut-takut,

“Mbok… kalau ketemu pocong… takut to?”

“Takutku cuma satu.”
Mbok Lasmi menatap tajam.
“Kalau mati tapi belum sempat taubat.”

Semua langsung terdiam. Bahkan angin pun terasa berhenti.


Tiga hari setelahnya, kampung semakin gaduh ketika Rafi, ponakan Bu Su yang baru pulang mengaji, mengaku melihat pocong juga.

Dengan suara bergetar ia berkata kepada ayahnya:

“Y-yah… itu pocong… di tikungan. Dia ngeliatin aku.”

Ayahnya menegur keras,

“Sudah! Jangan ngarang. Kau itu cuma kecapekan.”

Namun Rafi menangis.

“Aku lihat beneran, Yah! Matanya hitam…”

Para warga yang mendengar menjadi gelisah.

Isu mulai berkembang:

“Jangan-jangan pocong itu arwah Pak Giman yang baru meninggal kemarin.”
“Atau pesugihan! Ada kabar orang kampung sini main begituan.”

Ustadz Rahim akhirnya turun tangan.

“Pocong tidak ada hubungannya dengan orang meninggal. Arwah manusia tidak gentayangan. Jangan berburuk sangka.”

Namun ketakutan sudah terlanjur menyebar.


Warga sepakat membuat ronda investigasi besar. Pemuda, bapak-bapak, dan beberapa relawan berkumpul setelah isya.

Pak Lurah memberi instruksi,

“Kita keliling kampung. Kalau benar ada pocong, kita tangkap. Kalau tidak… berarti hanya isu.”

“Pak Lurah… kalau pocongnya loncat-loncat, gimana?”
“Ya ditangkap saja!”

Semua tertawa hambar, menutupi rasa takut masing-masing.

Malam pertama, tidak ada apa-apa.
Malam kedua, hanya suara angin.
Malam ketiga, seekor kucing melompat membuat semua hampir kabur.

Di malam keempat, suasana tiba-tiba berbeda.

Angin berhenti.
Lampu pos dekat rumah Mbok Lasmi redup lagi.
Udara dingin menusuk.

Kemudian…

sssrrtt…

Sebuah sosok putih muncul dari balik tikungan.
Pelan… melayang… menuju arah para peronda.

“Pocong! Astaghfirullah!”
“Lari! Lari!”

Tapi Pak Lurah berteriak,

“JANGAN LARI! HADAPI!”

Sosok itu mendekat, mengeluarkan suara lirih:

“Huuu… huu…”

Para warga mundur beberapa langkah.
Pocong itu semakin dekat…


Pocong itu tiba-tiba melakukan gerakan aneh… seperti terguncang.
Lalu…

PREEET!

Suara itu sangat tidak horor. Semua warga terdiam beku.

Pak Bandi memicingkan mata.

“Lho… itu… kok pakai sepatu?”

Semua menunduk. Dari sela-sela kain kafan, tampak sepatu hitam sneakers.

Pocong berdiri kaku. Tidak bergerak. Seperti salah tingkah.

Pak Lurah mendekat pelan-pelan.

“Hei… kamu manusia atau apa? Buka kainmu!”

Pocong itu tiba-tiba berbalik dan lari pontang-panting.

“KEJAR!!!”
“TANGKAP POCOOONGG!!!”

Suara teriakan menggema di seluruh kampung.

Pengejaran berlangsung dramatis. Pocong tersandung batu, jatuh menggelinding, menabrak pohon mangga, lalu kain kafannya robek.

Warga langsung membuka kain itu.

Dan muncullah wajah pucat…
milik Seno, remaja kampung yang terkenal suka bikin konten aneh.


Seno menangis ketakutan karena dikepung warga.

“A-ampun, Pak! A-aku cuma mau bikin konten horor buat TikTok! B-biar viral!”

Pak Lurah memukul kepalanya pelan.

“Konten? Kamu bikin kampung heboh empat hari cuma buat konten?!”

“S-saya nggak nyangka bakal seheboh ini! Lagian lampu pos redup… suasananya pas…”

Bu Su mendekat, wajahnya merah padam.

“Jadi… yang saya lihat waktu itu… kamu?! Nakal kamu, Senoooo!”

Seno menunduk,

“Iya, Bu… saya cuma mau coba-coba. Maaf…”

Ustadz Rahim menatapnya lama.

“Takutlah pada Allah, bukan pada viewer.”

Warga setuju memberikan hukuman:
kerja bakti seminggu penuh dan ceramah keliling kampung tentang bahaya hoaks.


Setelah kejadian itu, kampung kembali tenang.

Lampu pos diperbaiki.
Warga tidak lagi takut lewat gang dekat rumah Mbok Lasmi.
Rafi tertawa lagi setelah tahu “pocong” yang ia lihat adalah manusia.

Mbok Lasmi tersenyum sambil berkata,

“Aku bilang apa? Pocong itu cuma kalah popularitas dari anak sekarang.”

Pak Su menggandeng Bu Su sambil meledek,

“Makanya, lain kali kalau lihat pocong, dicek dulu. Siapa tahu pakai sepatu lagi.”

Bu Su manyun,

“Wis, wis… malu aku…”

Sementara itu Seno, wajahnya hitam oleh debu kerja bakti, bergumam lemas:

“Demi konten… aku hampir disalatkan hidup-hidup…”

Dan sejak malam itu, tidak pernah ada lagi pocong gentayangan.
Kalaupun ada suara aneh di malam hari, warga tidak langsung panik.

Mereka akan berkata:

“Paling Seno latihan buat konten baru.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR