SEASON 2 - CERITA ASMARA
📘 SEASON 2 – “Rahasia di Balik Tatapan Guru Magang”
Episode 1 – Janji yang Belum Selesai
Hujan turun sejak pagi, membasahi halaman sekolah yang biasanya ramai suara siswa. Aisha berdiri di depan ruang guru, memeluk tasku rapat-rapat. Tiga bulan sudah berlalu sejak ia memutuskan menjaga jarak dari Ardan—guru magang yang pernah membuat hatinya berdebar tanpa alasan.
Ia pikir waktu akan menyembuhkan semuanya.
Ia salah.
Hari ini Ardan kembali. Bukan lagi sebagai guru magang, tapi guru baru di sekolah itu. Dan sejak ia melihat namanya tertera di papan informasi, jantungnya seperti jatuh dari tempatnya.
“Bu Aisha?”
Suara itu—hangat, dalam, dan begitu dikenal.
Aisha menoleh perlahan. Ardan berdiri sambil membawa map dan senyum yang ia benci karena terlalu mudah membuatnya lemah.
“Kita bertemu lagi,” kata Ardan.
“Selamat datang kembali, Pak Ardan,” jawab Aisha singkat.
Ardan menatapnya lama. “Apakah kita baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana yang membuat seluruh ruang tiba-tiba terasa sempit.
Aisha tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan berjalan melewati Ardan, pura-pura sibuk. Tapi Ardan melihatnya… ragu dalam langkahnya, dan hati yang belum selesai.
Episode 2 – Seseorang yang Baru
Sejak kembalinya Ardan, suasana guru terasa berbeda. Rekan-rekan mulai menggoda Aisha.
“Bu Aisha, Pak Ardan itu nanya kamu terus loh,” kata Bu Nira sambil tersenyum jahil.
Aisha pura-pura sibuk di laptop. “Beliau guru baru. Wajar kalau banyak yang perlu ditanyakan.”
“Tanyakan ke kamu terus?”
Godaannya semakin menjadi.
Namun sebelum Aisha sempat membalas, seseorang mengetuk meja kerjanya.
“Permisi, Bu Aisha?”
Seorang pria berkacamata, berpenampilan rapi dengan senyum profesional muncul.
“Saya Reza, guru konseling baru. Kita nanti satu program kerja ya,” katanya.
Aisha sedikit terkejut. “Oh, iya… selamat datang.”
Pak Reza berbeda. Ramah, tenang, dan jelas-jelas tertarik saat pertama kali melihat Aisha. Saat ia pergi, Bu Nira langsung berbisik:
“Sepertinya ada yang baru tuh…”
Aisha hanya tersenyum, tapi di hatinya ia tahu:
Musim baru akan dimulai, dan tidak semuanya tentang Ardan.
Episode 3 – Tatapan yang Tak Bisa Berbohong
Hari Jumat, saat evaluasi program sekolah, Ardan duduk tepat di depannya. Aisha mencoba fokus pada presentasi kepala sekolah, tapi tatapan Ardan terasa seperti magnet.
“Aisha.”
Ardan memanggilnya setelah rapat selesai.
“Kenapa?” jawabnya hati-hati.
“Aku tahu kamu marah. Tapi aku kembali karena… aku tidak bisa pura-pura lupa dengan apa yang terjadi.”
Aisha menarik napas panjang.
“Pak Ardan, itu dulu. Sekarang kita rekan kerja. Tolong jaga profesional.”
Ardan tersenyum pahit.
“Kamu tidak akan pernah bisa menghapus seseorang yang kamu sayangi hanya dengan kata profesional, Aisha.”
Aisha menunduk.
Membenci kenyataan bahwa sebagian dirinya masih merasakan hal yang sama.
Di kejauhan, Pak Reza memperhatikan mereka berdua… dengan ketertarikan dan sedikit rasa curiga.
Episode 4 – Konflik Baru
Sore itu Aisha menerima email pembagian jadwal. Ia tercengang:
Program kerja bimbingan karakter → Team: Aisha & Ardan.
“Serius?” gumamnya.
Ardan menghampiri sambil membawa print-out.
“Sepertinya kita harus bekerja sama lagi, Bu Aisha.”
Aisha hendak protes, tapi teleponnya bergetar. Pesan dari Pak Reza:
“Bu Aisha, setelah pulang sekolah bisa bertemu sebentar? Ada hal penting tentang program kita.”
Ardan melirik ponsel Aisha yang menyala.
“Dari Pak Reza?”
Nada suaranya berubah.
Aisha langsung memasukkan ponsel ke tas.
“Itu urusan kerja.”
Ardan mendekat, suaranya rendah.
“Aku tidak suka kalau ada yang mendekati kamu.”
Aisha menatap tajam.
“Kamu tidak punya hak bilang begitu.”
Ardan terdiam.
Dan itu lebih menyakitkan daripada kemarahan mana pun.
Episode 5 – Keputusan yang Sulit
Pertemuan dengan Pak Reza berlangsung hangat. Ia terlihat antusias dan penuh rencana besar untuk program konseling.
Setelah selesai, Pak Reza berkata pelan,
“Bu Aisha… boleh jujur? Saya suka bekerja dengan Anda. Saya ingin mengenal Anda lebih jauh.”
Aisha terdiam.
Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti pintu baru yang terbuka.
Saat pulang, ia melihat Ardan berdiri di area parkir, menunggu hujan reda.
“Kamu pulang bareng siapa?” tanya Ardan.
“Sendiri,” jawab Aisha.
“Kalau kamu pergi dengan Pak Reza… tolong bilang. Aku perlu tahu.”
Aisha menatap lurus padanya.
“Aku tidak berkewajiban memberi tahu apa pun.”
Hujan semakin deras.
Perasaan semakin kacau.
Aisha berjalan pergi.
Ardan tetap berdiri di sana, basah oleh hujan… dan penyesalan.
Komentar
Posting Komentar