SEASON 1 NOVEL ROMANTISME

“Di Balik Pintu Kaca Ruang Direktur”

Sinopsis:

Alya, seorang sekretaris baru di perusahaan konsultan ternama, awalnya hanya ingin menata hidup setelah putus dari hubungan yang rumit. Namun kedatangannya mempertemukannya dengan sosok dingin namun memesona, Ardan Maheswara—CEO muda yang terkenal perfeksionis, ambisius, dan sulit didekati.

Setiap perintahnya tegas. Setiap tatapannya menggetarkan.
Di antara ritme kantor yang kaku, terselip ketegangan yang tidak pernah mereka akui.
Sampai satu malam, ketika lembur dan kesunyian kantor membuat batas profesional perlahan memudar…

BAB 1

Ruang Direktur & Tatapan yang Mengusik**

Hening pagi pecah oleh bunyi hak sepatu Alya menyentuh lantai marmer. Nafasnya sedikit bergetar saat ia sampai di depan pintu kaca besar bertuliskan:
ARDAN MAHESWARA – Chief Executive Officer

Ia menata rambutnya sekali lagi, memastikan semuanya terlihat profesional. Namun ia tak bisa menyembunyikan sedikit gugup di dadanya. Hari pertamanya sebagai sekretaris pribadi CEO.

Ketika ia mengetuk, suara itu terdengar—dalam, berat, dan berwibawa.
“Masuk.”

Alya membuka pintu dan menemukan pria itu berdiri membelakanginya, menatap Jakarta pagi dari balik jendela tinggi. Kemejanya putih, tubuhnya tegap, dan aura dominannya seakan memenuhi seluruh ruangan.

Tanpa menoleh, Ardan berkata,

“Jadwal saya hari ini sudah kamu pelajari?”

Alya mencoba tenang.
“Sudah, Pak Ardan. Rapat dengan tim legal pukul sembilan, kemudian persiapan presentasi—”

Ardan berbalik. Tatapannya jatuh tepat pada Alya, menelusuri wajahnya, lalu berhenti di mata.

“…Alya, bukan?”

Suara itu membuat jantung Alya memukul lebih cepat dari yang ia harapkan.
“Benar, Pak.”

“Terlambat dua menit,” katanya datar.

Alya terkejut. “Maaf, Pak. Lift sempat—”

“Saya tidak butuh alasan,” potongnya, tatapannya menusuk namun… entah mengapa membuat tubuh Alya sedikit panas. “Saya hanya ingin memastikan kamu paham bahwa ketepatan adalah segalanya bagi saya.”

Alya mengangguk cepat. “Saya mengerti, Pak Ardan.”

Ardan berjalan mendekat, langkahnya perlahan, mantap, dan—entah kenapa—terdengar sangat mendominasi. Ia berhenti hanya beberapa langkah dari Alya. Cukup dekat sehingga Alya bisa menangkap samar aroma parfumnya: dingin, maskulin, dan berbahaya dalam caranya sendiri.

“Kamu bisa mulai dengan menyiapkan dokumen rapat. Dan…” Tatapannya turun sedikit, ke arah tangan Alya yang tremor ringan. “…tenangkan tanganmu.”

Panas merayap ke pipi Alya.
“Maaf, Pak… saya hanya—”

“Gugup?” Ardan menaikkan alisnya. “Atau gelisah karena saya terlalu dekat?”

Alya menelan ludah. Lagi-lagi aroma itu menusuk kesadarannya.
“A… saya hanya belajar menyesuaikan diri.”

Sebuah senyum kecil—nyaris tak terlihat—terbit di bibir Ardan.

“Baik.” Ia berbalik, kembali ke mejanya. “Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan bekerja dengan saya.”

Alya mengangguk dan melangkah keluar, namun sebelum pintu menutup, suara Ardan kembali terdengar.

“Dan Alya…” Suaranya lebih rendah.

Alya menoleh. “Ya, Pak?”

“Jangan mencoba menyembunyikan kegugupanmu. Sangat jelas terlihat.”
Tatapannya turun sebentar ke bibir Alya—cukup untuk membuat nafanya bergetar.
“Dan itu… menarik.”

Pintu tertutup.
Alya berdiri di luar, mencoba menenangkan degup jantung yang kini berdetak jauh lebih cepat.

Ia tidak tahu, tapi sejak pagi itu…
Segalanya akan berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR