BAB 2 RUMAH TERAKHIR DI UJUNG GANG

RUMAH TERAKHIR DI UJUNG GANG — BAB 2



“Ruang Belakang: Tempat Mereka Tidak Pernah Mati”

Keyword utama: cerita horor rumah angker, ruang belakang angker, misteri rumah berhantu, cerita hantu panjang Indonesia, kisah horor nyata blog

Mengungkap Bagian Rumah yang Tak Seharusnya Dibuka

Tidak ada bagian rumah tua yang lebih ditakuti daripada ruang belakang. Dalam banyak cerita horor Indonesia, ruang belakang sering menjadi tempat penyimpanan energi negatif, ruang pemanggilan, atau tempat terakhir seseorang terlihat sebelum hilang.

Dalam serial horor ini, ruang belakang bukan sekadar ruangan.
Ia adalah perut dari rumah itu.
Tempat di mana suara-suara tinggal.
Tempat di mana orang kembali setelah mereka tidak lagi dianggap hidup.

BAB 2 ini akan membawa kita ke titik yang paling dingin dan gelap dalam rumah terakhir di ujung gang.
Dan setelah membaca ini, mungkin kamu akan berpikir dua kali sebelum membuka pintu belakang rumahmu sendiri.

BAB 2 — RUANG BELAKANG: TEMPAT MEREKA TIDAK PERNAH MATI

1. Pagi Pertama yang Tidak Punya Matahari

Pagi di gang itu selalu suram, tetapi pagi ini lebih dari sekadar suram. Tidak ada cahaya matahari yang masuk ke rumah keluarga Raka. Tirai masih tertutup, namun bahkan ketika ia membukanya—langit terlihat abu-abu gelap, seolah malam menolak pergi.

Raka memeriksa jam.
07.15.

Biasanya jam segitu suara anak-anak sekolah sudah terdengar. Tetangga biasanya ribut, motor lewat, ibu-ibu memanggil anaknya.

Hari ini?
Tidak ada apa pun.

Seakan semua orang pergi tiba-tiba.

Raka merasakan sesuatu yang berat di udara.
Bukan tekanan, lebih seperti… perhatian.

Gang itu sedang memperhatikannya.

Ia menutup jendela kembali.

Di dapur, piring-piring bekas paman masih tersusun rapi. Tidak ada yang aneh. Sampai Raka membuka kulkas.

Ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah cermin kecil.
Di permukaannya tertulis dengan embun:

“RUANG BELAKANG.”

Raka langsung menutup kulkas itu keras-keras.

Ini bukan pesan yang datang dari paman.
Ini pesan dari rumah itu.

Atau dari sesuatu yang pernah tinggal di sana.

2. Jejak Kaki yang Kembali Muncul

Ketika Raka hendak keluar dapur, ia melihatnya.

Jejak kaki kecil.
Empat jari.
Tidak lengkap.

Jejak itu baru—masih lembap.
Mengarah ke pintu belakang rumah keluarga Raka.

Raka mengikuti perlahan, jantung berdebar.

Sesampainya di pintu… ia melihat pintu itu sedikit terbuka.

Tidak cukup lebar untuk orang dewasa masuk.
Tetapi cukup lebar untuk sesuatu yang kecil… atau untuk membiarkan suara-suara masuk.

Raka menutup pintu itu—pelan.

Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, sebuah suara kecil seperti anak kecil tertawa muncul dari sisi lain.

“Hehehe…”

Raka merinding.

Ia langsung mengunci pintu itu.

Tapi ketika ia hendak menjauh…

Pintu bergetar keras.

TIGA KALI.
Seperti semalam.

Dug! Dug! Dug!

Raka menegang. Ia memegang gagang pintu, memastikan tidak ada apa pun yang mendorong dari luar.

Sunyi.
Lalu—

“A…ku…”

Suaranya rangat, napas pendek.

“…dingin…”

Raka langsung mundur tiga langkah, tangan gemetar.

Itu… suara Nara.
Tidak mungkin itu bukan suara Nara.

Tapi bagaimana mungkin suara Nara berada di balik pintu belakang rumah keluarganya, bukan di rumah angker itu?

Raka merasakan tengkuknya panas dingin.

Sesuatu berubah sejak ia kembali ke gang.
Rumah itu bukan satu-satunya yang hidup.
Gang itu sendiri hidup.

3. Ketukan dari Dalam Lemari

Hari itu belum selesai menyiksa Raka.

Ketika ia masuk kamar paman untuk membersihkan, ia mencium bau yang sangat aneh.

Bau amis.
Bau tanah basah.
Bau ruangan tertutup yang dihuni terlalu lama oleh sesuatu yang tidak seharusnya hidup.

Raka membuka jendela kamar.
Tidak ada angin masuk.
Seolah udara di luar mati.

Ia merapikan rak buku ketika sesuatu mengganggu perhatiannya.

Lemari kayu di pojok ruangan sedikit terbuka.

Padahal tadi tertutup.

Raka mendekat.
Menarik napas.

Tangannya menyentuh gagang lemari.

Dan lemari itu—

—bergetar dari dalam.

Tidak keras.
Tidak lama.
Tapi jelas.

Seperti seseorang di dalam sana sedang menahan napas… atau menangis perlahan.

Raka meneguk ludah.
Ia hampir membuka lemari itu—

Ketika suara lain muncul dari dalam.

Suara perempuan.

Sangat pelan.
Sangat lelah.

“Ka… kau… datang juga…”

Raka langsung mundur.

Bukan karena takut dengan suara itu.
Tetapi karena ia mengenalinya.

Itu Nara.
Namun bukan Nara seperti di ingatannya.
Suaranya pecah, seperti pita suaranya sudah lama rusak.

Raka tak bisa menahan diri.

Ia membuka pintu lemari.

Gelap.

Kosong.

Tidak ada apa-apa.

Tapi di dinding lemari, dengan kukuh-kuku kecil, tergores tulisan:

“RUANG BELAKANG.”

Dan di bawahnya:

“Kita semua di sini.”

4. Catatan Rahasia Paman

Raka keluar dari kamar paman sambil membawa map cokelat lain yang ia temukan dalam laci.
Di sampulnya tertulis:

“JANGAN MASUK RUANG BELAKANG.
BAHKAN JIKA SUARA ITU MEMINTA.”

Raka membuka catatan itu.

Tulisannya tergesa-gesa, seperti paman menulisnya sambil ketakutan.

Rumah itu mengawasi. Rumah itu lapar.
Ia tidak berhenti setelah mengambil satu. Ia akan mengambil satu lagi. Dan lagi.
Aku mendengar suara anak kecil berjalan di plafon setiap malam.

Aku tahu itu bukan Nara.
Nara sudah bukan manusia ketika rumah itu menelannya.

Raka, jika kau membaca ini, rumah itu pasti sudah memanggilmu kembali.
Jangan masuk ruang belakang. Jangan buka pintunya.
Jika kau masuk… kau tidak akan kembali sebagai dirimu yang asli.

Raka memejamkan mata.
Tubuhnya mulai panas.

Ia merasakan sesuatu:
dorongan untuk pergi.
dorongan untuk mendekati rumah angker itu.

Seperti ada tali tak terlihat yang menjerat pergelangan kakinya, menariknya perlahan.

Dorongan itu belum ada semalam.
Sekarang kuat sekali.

Paman benar.
Rumah itu memang sedang memilihnya.

5. Tetangga yang Tiba-Tiba Berani Bicara

Raka keluar ke teras rumah.
Baru kali ini ia melihat seseorang di gang.

Seorang nenek berkerudung lusuh sedang menjemur kain. Kulitnya keriput, matanya merah karena kurang tidur.

Ketika melihat Raka, ia berhenti.

“Nak… kau Raka, ya?”

Raka mengangguk.

Nenek itu mendekat pelan, seperti takut ada yang mengawasi mereka.

“Aku… aku lihat kau semalam.
Rumah itu… memanggil lagi, ya?”

Raka tidak menjawab.
Nenek itu menunduk.

“Aku pernah kehilangan anakku di situ.
Dua puluh tahun lalu.”

Raka terkejut.

Nenek itu melanjutkan, suaranya bergetar:

“Rumah itu buka pintunya kalau sudah lapar.
Dan kalau dia sudah lapar… gang ini akan sunyi seperti hari ini.”

Raka mengeryit. “Sunyi?”

Nenek mengangguk.

“Kau kira gang ini sepi karena pagi?
Tidak, Nak.
Gang ini sedang diam…
karena mereka sudah keluar.”

“Siapa?”

Nenek menutup mulutnya, ketakutan.

Dengan suara hampir tidak terdengar, ia berbisik:

“Mereka yang hilang.
Mereka yang tidak mati… tapi tidak bisa hidup.”

Raka menegang.

Nenek memegang lengan Raka erat-erat.

“Kalau kau ingin tetap jadi manusia… jangan dengarkan suara itu.”

Raka menelan ludah.
“Suara apa?”

Nenek menjawab sambil mundur:

“Suara dari… ruang belakang.”

6. Suara dari Pintu Belakang Makin Jelas

Raka kembali masuk rumah. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi—

Ketika ia melewati dapur, napasnya berhenti.

Pintu belakang tidak hanya bergetar.
Sekarang pintu itu bergerak sendiri.

Gagang pintu berputar.

Pelan…
Lalu berhenti.
Lalu berputar lagi.

Seolah ada seseorang di luar yang mencoba masuk, mencoba membuka dengan lembut… dengan sabar… dengan sangat tahu apa yang ia lakukan.

Raka berdiri mematung.

Lalu suara itu muncul.

Lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih menyayat.

“Kak…”

Raka memejamkan mata.

Tidak.
Itu tidak mungkin Nara.

“Kak… tolong…
gelap… dingin…”

Raka gemetar.

Suara itu menangis.

“Kenapa Kakak tidak jemput aku dulu?”

Hati Raka terasa diremas.

“Kenapa Kakak biarkan aku masuk sendirian?”

Suara itu berubah.
Lebih serak.
Lebih putus asa.

“Kak… aku di ruang belakang…
Aku sudah di sini lama…”

Raka tahu ia harus menjauh.

Tapi kakinya melangkah maju.
Satu langkah…
dua langkah…
tiga…

Sampai ia berdiri tepat di depan pintu itu.

Jarak antara dirinya dan sesuatu di balik pintu itu hanya satu sentimeter kayu tua.

Suara itu berbisik lembut.

“Buka pintunya, Kak…
Aku kedinginan…”

Raka mengangkat tangannya ke gagang pintu.

Ia tahu ia tidak boleh.
Ia tahu ia harus lari.

Namun jari-jarinya sudah menyentuh gagang besi dingin itu.

Ia mulai memutar gagang—

Tiba-tiba seseorang menarik bahunya keras!

7. Yang Menarik Raka Bukan Manusia

Raka berbalik.
Kosong.

Tidak ada siapa pun di belakang.

Namun tangan yang menariknya tadi masih terasa—dingin, kecil, seperti tangan anak kecil yang tidak utuh.

Dan ketika Raka memandang ke lantai…

Ada jejak kaki empat jari, muncul satu demi satu…
bergerak menjauh dari pintu…

…seperti seseorang yang tidak terlihat sedang berjalan.

Jejak itu berhenti di ruang tamu.

Kemudian, perlahan, jejak itu berputar.
Menghadap ke Raka.

Lalu—

“KAU MILIK KAMI.”

Suara itu menggema dari seluruh ruangan.
Bukan suara Nara.
Bukan suara nenek.
Bukan suara manusia.

Suara itu dalam, serak, seperti berasal dari tenggorokan makhluk yang tidak punya pita suara yang normal.

Raka mundur.
Terlalu cepat.
Ia tersandung kursi dan jatuh ke lantai.

Jejak-jejak kaki itu mulai mendekat.
Satu per satu.
Tepat ke arahnya.

8. Tanda Bahwa Rumah Itu Mulai Lapar

Di dinding rumah, cat-cat mulai terkelupas sendiri.
Perabotan bergetar.
Lampu menyala dan mati berulang-ulang.

Gang di luar semakin sunyi—terlalu sunyi.
Tidak ada suara motor.
Tidak ada suara ayam.
Tidak ada suara manusia.

Hanya rumah itu yang bersuara.

Dan suara itu seperti napas panjang…
bertautan dari seluruh dinding.

Raka tahu apa arti semua ini.

Paman pernah menulis di bagian lain catatannya:

Jika rumah itu lapar, tidak ada yang bisa sembunyi.
Rumah itu akan memanggil semua yang pernah disentuhnya.
Dan ruang belakang akan menjadi pintu pertama yang terbuka.

Raka membeku.

Ruang belakang rumah angker itu mungkin bukan satu-satunya ruang belakang.

Mungkin…

setiap rumah di gang ini memiliki pintu menuju tempat yang sama.

Tempat di mana “mereka” menunggu.

9. Suara Terakhir dari Ruang Belakang

Pintu belakang berhenti bergetar.

Keheningan menggantung.

Hanya satu suara muncul:

Langkah kecil.
Sangat pelan.

Dan kemudian—
suara perempuan.

Lirih.
Hampir patah.

“Kak…”

Raka menahan napas.
Ia menutup telinga, tapi suara itu masuk dari dalam kepala.

“Aku sudah lihat Kakak berdiri di luar rumah itu.”

Raka menggigil.

“Kakak lihat aku…
Tapi Kakak tidak tarik aku.”

Raka mulai menangis.

“Maaf…” suaranya pecah.

Suara itu mendekat—terlalu dekat.

“Kak… buka pintunya…”

Tiba-tiba suara kedua muncul, jauh lebih rendah:

“BUKA.”

Dan seluruh dinding rumah bergetar sekaligus.

Pintu belakang—

—terbuka sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR