PART 9 — “Yang Bertahan, Yang Dimakan”
PART 9 — “Yang Bertahan, Yang Dimakan”
Gelap itu bukan sekadar gelap.
Ia seperti kulit, seperti ruang, seperti mulut yang menutup rapat di sekelilingku.
Aku tidak punya tubuh, tapi aku merasa seperti sedang terjepit di antara dua dinding berdaging.
Dan di depan sana—pelan-pelan—tiga sosok muncul:
Tubuhku.
Rani 1.
Rani 2.
Ketiganya berdiri membentuk lingkaran, muka mereka bergantian bergeser, seperti wajah sedang digulung ke bentuk baru.
Tubuhku berkata:
“Sekarang kita mulai. Tiga tubuh, satu makhluk, dan kamu… serpihan terakhir.”
Aku mencoba bicara, tapi kesadaranku seperti retak-retak.
“Kenapa aku… harus mati?”
Tubuhku tersenyum pelan.
“Kamu tidak harus mati.”
Ia mendekat.
“Kamu bisa… digabungkan.”
Rani 1 tertawa, suaranya seperti retakan kaca.
“Gabung saja. Tidak sakit… hanya seperti tenggelam.”
Rani 2 menambahkan, “Atau kalau kau menolak… kami bertiga yang masuk ke kamu.”
Ruang berdenyut.
Napas mereka menjadi satu irama.
Tak ada lagi batas antara suara manusia dan suara makhluk.
1. Makhluk Itu Menunjukkan Bentuk Sebenarnya
Tiba-tiba tubuhku berhenti berbicara.
Kedua Rani pun membeku.
Mereka menegang seperti boneka yang ditarik talinya.
Dan pelan-pelan… ketiganya menunduk bersamaan.
Tulang punggung mereka retak pelan.
Bahu mereka menurun.
Lalu sesuatu keluar dari mulut ketiga-tiganya.
Bukan tentakel.
Bukan darah.
Bukan asap.
Tapi benang hitam halus, seperti rambut yang melayang.
Benang-benang itu bergerak hidup, menghubungkan mereka satu sama lain, lalu menyatu menjadi satu bentuk di tengah.
Bentuk setinggi manusia.
Kurus.
Bernafas.
Kulitnya seperti kain basah.
Dan kepala makhluk itu tumbuh perlahan dari benang-benang itu, menatapku tanpa mata.
“Aku bukan tiga. Aku satu.”
“Dan kamu… bagian yang belum lengkap.”
Suara itu seperti suara di kepala, bukan di telinga.
2. “Aku Tidak Mau Jadi Bagian Kamu!”
Aku menjerit.
“Aku bukan milikmu! Aku bukan pecahan! Aku manusia!”
Makhluk itu meraba udara, mendekat—tidak berjalan, tapi meluncur.
“Manusia?”
Ia tertawa lirih.
“Manusia tidak bisa berada di tempat ini tanpa tubuh.”
Ia menyentuh “dadaku”—atau apa pun yang menjadi pusat kesadaranku.
“Kamu bukan manusia.”
Ia berbisik.
“Kamu adalah ketakutan. Kamu adalah serpihan yang aku potong dari dia.”
Dan ia menunjuk tubuhku yang masih berdiri tak jauh.
Tubuhku tersenyum dalam, mata kosong.
“Kalau kau mau hidup… kau harus mengambil tubuh itu kembali.”
Aku tercekat.
“Bagaimana?”
Rani 1 mendekat dengan langkah patah-patah.
“Rebut. Masuk. Kuasai.”
Ia mencengkeram kepalanya sendiri, memelintir lehernya hingga berputar setengah lingkaran.
“Kalau kamu cukup kuat.”
Rani 2 berbisik, “Atau biarkan dia memakanmu. Lebih mudah.”
3. Pertaruhan: Merebut Tubuh
Tubuhku melangkah maju dan berkata—dengan suara manusia normal:
“Aku tidak mau kamu kembali.”
Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya aku melihat ketulusan di matanya.
“Aku bahagia tanpamu.”
Aku terpaku.
“A… apa?”
Ia mengangguk.
“Kamu adalah bagian diriku yang paling lemah. Bagian yang selalu takut. Bagian yang selalu membuatku ragu. Ketika makhluk itu memotongmu dari kepalaku, aku… akhirnya bisa bernapas.”
Tubuhku mendekat, wajahnya penuh rasa lega.
“Jadi maaf… tapi aku lebih baik tanpamu.”
Rani 1 dan Rani 2 bertepuk tangan kecil, mengejek.
Makhluk itu tersenyum lebar.
Dan saat itu… aku merasa sesuatu pecah dalam diriku.
“Jadi…”
Suaraku bergetar.
“Bagi kalian, aku ini hanya sampah?”
Tubuhku mengangguk pelan.
“Sampah… tapi hidup.”
Makhluk itu membuka lengannya.
“Pilih.
Ambil tubuhmu kembali… atau ikut denganku sebagai bagian kecil yang diam.”
Ruang berdenyut keras, seperti jantung raksasa.
4. Aku Melawan
Saat makhluk itu mendekat, tatapannya siap menelan, aku akhirnya membentak:
“AKU TIDAK MAU MATI!”
Gelombang cahaya menyembur dari pusat kesadaranku.
Makhluk itu mundur.
Rani 1 dan Rani 2 terhempas.
Tubuhku asli terkejut, wajahnya pecah dua sebelum kembali utuh.
Aku berteriak lebih keras:
“AKU BERHAK HIDUP!”
Makhluk itu berteriak marah, tubuhnya meregang menjadi bentuk-bentuk yang tidak punya logika.
Dan saat itu terjadi, aku menubruk tubuh asli—
masuk melalui wajahnya—
melalui matanya—
melalui dadanya—
seperti kabut masuk ke ruangan kecil.
Aku merasakan daging.
Aku merasakan tulang.
Aku merasakan jantung berdetak.
Aku kembali ke tubuh.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku bisa bernapas.
5. Twist Akhir Menuju Part 10
Aku terjatuh ke lantai kamar kos.
Rani 1 dan Rani 2 tidak ada.
Makhluk itu hilang.
Semuanya gelap dan sunyi.
Aku bangkit perlahan, memegang kepala—
sakit seperti seluruh hidupku ditarik keluar lalu dimasukkan lagi.
Tapi kemudian aku melihat sesuatu di cermin kamar.
Wajahku.
Tapi…
Ada bayangan lain berdiri tepat di belakangku.
Tidak bergerak.
Tidak bersuara.
Tidak berkedip.
Dan bayangan itu berkata dengan suara yang tidak boleh dimiliki manusia:
“Kamu pikir kamu menang?”
“Part 10: akhir.”
“Kita belum selesai.”
Komentar
Posting Komentar