PART 8 — “Yang Selama Ini Bicara Denganmu”

 

PART 8 — “Yang Selama Ini Bicara Denganmu”

Gelap.

Tidak ada dinding. Tidak ada lantai. Tidak ada ruangan.
Hanya hitam yang terasa seperti… kulit makhluk hidup.

Dan di tengah kegelapan itu, sosok yang menyentuh bahuku akhirnya memperlihatkan dirinya.

Bukan Rani.
Bukan makhluk peniru.
Bukan versi diriku yang lain.

Ternyata… itu adalah AKU yang asli.

Atau setidaknya, sesuatu yang mengambil tubuhku, sementara aku—
ya Tuhan…
Aku selama ini hanyalah bentuk samar, bayangan, kesadaran yang terpisah.

Aku asli berdiri di depanku.
Tubuhku sendiri.
Wajahku sendiri.
Cara berdiriku, cara bertatapan, cara tersenyum canggung—
semuanya tepat.

Dan dia berkata dengan suara yang membuat jantungku berhenti sesaat:

“Akhirnya kamu bangun. Aku sudah lama menunggumu sadar.”


1. “Selama ini… siapa aku?”

Aku mencoba bicara, tapi mulutku tidak terasa seperti mulut.
Aku lebih seperti… suara yang menggantung.
Pikiran tanpa tubuh.

“Ka-kamu… siapa?”

Tubuhku—versi asli—menghela napas panjang.
“Namaku sama seperti kamu. Karena aku memang kamu.”
Dia mendekat.
“Tapi kamu… bukan aku.”

Aku merinding.
“Kamu makhluk peniru?”

Dia tersenyum, pelan.
“Terbalik.”

Dia menepuk dadanya sendiri.
“Aku ini manusia. Aku ini bentukmu yang nyata.”

Lalu dia menunjuk ke arahku.

“Kamu itu yang ditiru.”

Kepalaku mendengung.

“Apa maksudmu… aku yang palsu?”

Tubuhku mendekat dan berbisik:

“Bukan hanya palsu. Kamu itu sisa.”


2. Twist: Makhluk Peniru Tidak Meniru Manusia… Tapi Menggandakan Kesadaran

Tubuhku berjalan di sekelilingku seperti ilmuwan memandangi spesimen.

“Kamu diciptakan saat makhluk itu masuk ke rumah kita dua minggu lalu. Kamu ingat suara langkah malam itu?”

Aku mengangguk samar.
Langkah di dapur.
Di koridor.
Di belakang pintu kamar.

“Itu bukan makhluk sedang mendekat,” katanya.
“Itu makhluk sedang mencari bagian jiwa yang bisa dilepaskan.”

Aku merasa dingin menjalar ke inti diriku.

“Bagian yang dia lepaskan… adalah kamu.”

Tubuhku melanjutkan:

“Kamu adalah serpihan ketakutan yang terpisah dariku. Ia memotongmu dari dalam kepalaku—melahirkan kamu sebagai entitas baru.”

Aku tercekat.

“Jadi… aku lahir dari ketakutanmu?”

“Ya. Itu sebabnya kamu selalu panik. Selalu ragu. Selalu linglung. Karena kamu memang bagian emosiku yang paling rapuh.”

Tubuh itu menatapku dengan kasihan.

“Makhluk itu tidak meniru kita. Dia memecah kita.”


3. Twist Tambahan: Rani Juga Bukan Benar-Benar Rani

Gelap mulai memudar, digantikan ruangan mirip kamar kos, tapi dalam bentuk setengah hancur.

Dan dua Rani muncul bersamaan.
Namun kali ini… keduanya tertawa.

Tertawa yang sama.
Nada yang sama.
Senyum yang sama.

Tubuhku berkata:

“Rani yang asli sudah lama hilang. Makhluk itu menjadikannya wadah pertama.”

Aku terpaku.

“Kapan…?”

“Waktu kalian pulang malam itu.”
Ia menatapku dalam-dalam.
“Rani yang selalu mendukungmu… Rani yang bilang kamu harus sabar… Rani yang beberapa minggu ini aneh…”

Ia menelan ludah.

“…itu bukan dia.”

Aku tidak bernafas.

Tubuhku menambahkan:

“Makhluk itu memang bisa menggandakan wujud, tapi yang pertama kali dia serap… Rani.”

Salah satu Rani menunduk, suaranya berubah dalam.

“Dia tubuh yang nyaman,” katanya pelan.
“Penuh trauma kecil yang lezat. Banyak ruang untuk bersembunyi.”


4. Twist Inti: Makhluk Itu Sebenarnya Ada Di Antara Kami Semua — Sekaligus

Tubuhku mendekat ke dua Rani dan… ketiga-tiganya tersenyum serentak.

Senyum identik.

“Kalian bertiga… makhluk itu??” aku menjerit.

Tubuhku tertawa kecil.
“Makhluk itu hanya satu.”
Ia mengetuk pelipisnya.

“Dan dia ada di sini…”

Ia mengetuk dadanya.

“…dan di sini….”

Ia menyentuh salah satu Rani.

“…dan di sini.”
Ia memegang bahu Rani satunya.

“Ada di tiga tubuh sekaligus.”
Tatapannya menajam.

“Dan sekarang dia ingin kembali ke bagian yang belum dia miliki…”

Ia menatapku langsung ke inti kesadaranku.

“…kamu.”


5. Twist Psikologis: Aku Bukan Dipilih — Aku Diincar

Tiba-tiba dua Rani merayap ke arahku, sementara tubuhku sendiri berjalan santai.

“Aku tidak dikejar karena aku manusia,” kataku tergagap.
“Bukan itu, kan?”

Tubuhku tertawa.

“Tidak. Kamu dikejar karena kamu paling lemah.”
Ia mendekat, menyentuh dadaku yang tak berbentuk.

“Ketakutan murni adalah bahan terbaik untuknya.”

Aku menjerit, mencoba mundur, tapi aku tidak punya kaki—aku hanya kesadaran yang ditarik melayang.

Gelap menutup lagi, kali ini seperti pintu mulut yang menelan.

Dan dalam gelap itu tubuhku berbisik:

“Part 9 nanti… kita akan selesaikan siapa di antara kita yang berhak hidup.”

“Dan Part 10—di akhir—kau akan tahu mengapa semua ini sebenarnya dimulai.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR