PART 7 — “Tiga Kepala dalam Satu Ruang Gelap”
PART 7 — “Tiga Kepala dalam Satu Ruang Gelap”
Aku tidak tahu kapan aku tertidur. Atau apakah aku benar-benar tidur.
Yang aku tahu, ketika aku membuka mata… aku berada di ruangan yang bentuknya seperti kamar kosku, tapi hancur, meleleh, seperti dindingnya sedang menetes. Lampu berkedip. Bau besi terbakar menusuk hidung.
Dan di tengah ruangan, ada dua Rani.
Satu duduk di lantai sambil menangis.
Satu lagi berdiri, memandangku dengan kepala sedikit miring, senyum yang terlalu luas untuk wajah manusia.
Dan entah kenapa, aku juga melihat diriku sendiri berdiri di pojok kanan. Tatapannya kosong, seperti sedang menunggu giliran untuk bicara.
Tiga kepala.
Tiga napas.
Dan semuanya… memandangku.
1. “Mana Rani yang asli?”
Rani yang menangis menyeret tubuhnya mendekat, tangan gemetar.
“A-aku… yang asli… dia meniruku… tolong… jangan dekat dia… dia ingin masuk kepalaku…”
Rani yang tersenyum menatapku tanpa berkedip.
“Aku yang asli. Dia cuma memakan bentuk luarnya. Lihat aku… lihat caranya dia bicara. Kamu tahu, kan, aku nggak pernah sesenggukan seperti itu…”
Lalu “aku” yang berdiri di pojok kanan akhirnya bicara.
“Diam kalian.”
Suaranya sama persis denganku.
“Dia cuma butuh salah satu percaya pada yang salah. Lalu dia bisa masuk ke tubuh siapapun.”
Dua versi Rani serentak menoleh ke kembaran diriku itu.
Aku kehilangan kendali napas. “Kalau begitu… siapa yang benar?”
“Aku,” kata mereka bertiga bersamaan.
Ruangan bergoyang. Dindingnya seperti bernafas.
2. Pertarungan 3 Arah Dimulai
Makhluk peniru mulai berubah — bukan secara fisik, tapi perilakunya.
Satu detik dia meniru getaran suara Rani, detik berikutnya menjadi aku.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan,” katanya dengan suaraku.
“Kamu takut salah pilih. Kamu takut menyakiti orang yang benar. Kamu takut menjadi aku.”
Dia merangkak mendekat.
Bukan berjalan.
Merangkak cepat seperti laba-laba.
Rani menangis histeris. “Jangan dekat dia! Itu dia! Itu dia!”
Rani yang tersenyum tiba-tiba berbicara sangat pelan.
“Kamu tahu kan, kalau aku yang asli… kamu harus percaya intuisi kamu. Kamu inget hari kita pertama kali ketemu? Apa yang aku bilang waktu itu?”
Aku ingin menjawab, tapi makhluk peniru tertawa, membenturkan kepalanya ke lantai sampai krek, krek, lalu bangkit lagi seolah tidak sakit.
“Jangan percaya ingatan. Aku bisa memakannya.”
Tiba-tiba ruangan gelap total.
Dan dalam kegelapan itu… semua suara menjadi suaraku.
“Aku di sini.”
“Cinta, tolong.”
“Aku yang asli.”
“Bunuh salah satu dari kami, baru kau bebas.”
“Pilih aku.”
“Jangan pilih dia.”
“Aku sakit.”
“Aku marah.”
“Aku… kamu.”
Suara-suara itu bergema, bukan dari luar… tapi dari dalam kepalaku.
3. Surreal: Batas Realitas Meleleh
Cahaya kembali menyala satu garis tipis dari atas, seperti lampu operasi.
Dan aku melihat sesuatu yang membuat kulitku menggigil sampai punggung.
Ketiga sosok—dua Rani, satu versi diriku—tidak lagi berdiri di posisi semula.
Mereka bertukar tempat.
Berubah tinggi.
Berubah ekspresi.
Berubah rambut.
Kadang wajah mereka seperti dipoles ulang oleh tangan tak terlihat.
Seolah-olah makhluk itu berkata:
“Jika kau menggunakan logika… kau kalah.”
Rani menangis tiba-tiba berhenti, wajahnya kaku, mata membesar.
“Aku…” katanya lirih.
“Aku bukan aku.”
Lalu dia tersenyum.
Senyum bukan manusia.
Perlahan, kulit pipinya sobek sedikit saat tersenyum terlalu lebar.
Darah hitam menetes.
“Ketahuan,” katanya sambil tertawa tanpa suara.
Yang lain—Rani tersenyum dan versi diriku—serentak menjerit, “JANGAN DEKAT DIA!”
Tetapi kini suara kedua-duanya sama-sama manusia.
Aku melihat makhluk itu—atau berpikir aku melihatnya—melompat ke dinding, merayap seperti tinta hitam cair, lalu turun lagi dengan bentuk Rani, tetapi matanya kelopak tiga.
Sial.
Aku kehilangan seluruh kemampuan membedakan mana yang asli.
4. Pertarungan Psikologis Dimulai
Aku paksa berbicara.
“Kalau kalian ingin aku percaya salah satu… buktikan sesuatu yang cuma Rani asli yang tahu!”
Dua Rani itu saling memandang.
Diriku versi peniru menunduk, seolah mengintip pertempuran ini.
Rani A berkata lirih, “Kamu tahu aku selalu takut gelap. Makanya kamu selalu—”
Rani B memotong, “Itu terlalu umum. Tapi kamu ingat waktu kita ke minimarket? Aku yang bilang kamu mirip aktor itu—”
Tiba-tiba diriku sendiri tertawa.
“Bodoh.”
Suara itu menggema.
“Keduanya mengambil informasi dari kepalamu. Hanya aku yang tidak.”
Aku mundur. “Kamu? Yang asli?”
Dia tersenyum tipis.
“Bukan. Tapi aku yang paling dekat.”
Dua Rani itu berteriak tidak sinkron:
“JANGAN DENGARKAN DIA!”
“ITULAH DIA!”
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat kedua Rani sama-sama ketakutan.
Aku tidak tahu siapa yang asli.
Aku tidak tahu siapa musuh.
Dan lebih parah lagi…
Aku mulai curiga:
Bagaimana jika aku punya lebih dari satu versi di ruangan ini?
Bagaimana jika yang berdiri ini… bukan aku yang asli?
Aku merasa seperti bukan di tubuhku sendiri.
5. Cliffhanger Akhir — “Yang Menyentuh Duluan”
Tiba-tiba, lampu padam lagi.
Gelap total.
Napas tiga sosok bergabung menjadi satu suara besar.
Lalu…
seseorang menyentuh bahuku dari belakang.
Dan suara itu berbisik:
“Awas… kamu menyentuh yang salah, kamu mati.
Tapi kalau kamu tidak memilih… aku masuk ke dalam kamu.”
Suaranya…
bukan Rani.
bukan aku.
bukan manusia.
Aku merinding sampai menggigil.
Aku berbalik pelan—namun tidak ada yang terlihat dalam gelap.
Yang aku dengar hanya satu kalimat lagi, sangat dekat dengan telingaku:
“Kamu siap melihat siapa yang sebenarnya sedang bicara denganmu selama ini?”
—BERSAMBUNG PART 8—
Komentar
Posting Komentar