PART 6 — “Yang Naik Bukan Manusia”
PART 6 — “Yang Naik Bukan Manusia”
Siluet “Rani” merangkak turun dari lubang cahaya di atas kepalaku.
Tidak seperti manusia.
Tidak seperti makhluk bawah ranjang.
Gerakannya seperti seseorang yang baru pertama kali mencoba memakai tubuh manusia—patah-patah, terseret, kepalanya menunduk dengan leher terlalu lentur.
“Rani…” suaraku bergetar, “itu kamu… kan?”
Tubuh itu berhenti.
Lambat sekali, kepalanya terangkat.
Bukan wajah Rani.
Bukan wajah siapa pun.
Wajahnya tampak seperti bayangan lunak yang mencoba meniru bentuk wajah manusia. Bagian matanya bergelombang. Mulutnya melar hingga ke telinga, tapi bentuknya tidak tetap—bergerak, menetes, seolah cair.
Namun suara yang keluar adalah suara Rani.
“Van… kenapa kamu di bawah…?”
Aku merinding sampai tulang. “Kamu… bukan Rani.”
Wajah cair itu “tersenyum”. Bentuk mulutnya berubah menjadi retakan panjang yang salah.
“Kalau kamu terus bilang bukan… nanti aku jadi marah.”
Makhluk bawah ranjang, yang sejak tadi diam, tertawa kecil.
“Aku bilang apa? Dunia di atas menolaknya. Maka… yang baru di atas harus menggantikannya.”
Aku mundur beberapa langkah, lututku gemetar.
“Rani” palsu turun sepenuhnya, kakinya menapak lantai tulang. Suaranya mulai berubah—tidak stabil.
Pertama suara Rani.
Lalu suara laki-laki.
Lalu suara anak kecil.
Lalu suaraku sendiri.
“Vannaaa… ayo pulang… pulang… PULANG…”
Setiap kata diucapkan dengan suara berbeda, bercampur jadi satu.
Aku berbalik, berusaha lari dalam gelap. Tapi ruang bawah ranjang itu berubah semakin panjang. Aku lari, tapi tulang-tulang di lantai bergerak seperti gelombang yang mengarahkanku kembali ke tempat semula.
Makhluk bawah ranjang berjalan mengelilingiku perlahan.
“Kamu tidak paham ya… tempat ini bukan ruangan. Ini bukan dunia. Ini bukan mimpi.”
Ia merunduk ke samping wajahku.
Suaranya seperti bisikan yang ditiupkan langsung ke otakku.
“Ini… adalah mulut.”
Jantungku membeku.
“M—mulut…?”
Makhluk itu menatap langit-langit hitam di atas kami.
“Ya. Kamu sedang di dalam sesuatu yang lebih tua dari ingatan manusia. Lebih lapar… dari apa pun di atas.”
Bayangan tubuh raksasa yang tadi hanya samar kini muncul perlahan—sangat perlahan—dari kegelapan atap dunia itu.
Siluet tingginya seperti menyentuh langit.
Tubuhnya tidak memiliki bentuk pasti, bergelombang, berubah, seolah-olah dunia ini sedang mencoba memutuskan wujud apa yang akan ia pakai.
Dan kemudian…
Ia menatap ke arahku.
Tidak dengan mata.
Dengan kesadaran yang menembus tulang kepala, masuk ke pikiranku seperti paku dingin yang dipaksa masuk perlahan.
Aku memegang kepalaku, berteriak.
“A—AHHHH!! BERHENTI!!”
Sosok raksasa itu berbicara, tapi suaranya tidak keluar dari mulut—melainkan dari dalam kepalaku.
“Keluar? Kamu pikir ada keluar?”
Aku jatuh berlutut. Kesadaranku bergetar. Dunia berputar.
Makhluk bawah ranjang mendekat dan menatapku, matanya hitam namun penuh kegembiraan aneh.
“Dia sedang membaca kamu,” bisiknya.
“Dia sedang melihat isi kepala kamu… melihat apa yang kamu takutkan, apa yang kamu sembunyikan dari dirimu sendiri… lalu ia akan memakannya.”
“S-STOP! STOP!!” aku berteriak sambil memukul lantai.
“Rani” palsu berdiri di belakangku.
Tiba-tiba suaranya berubah jadi sangat lembut.
Suara asli Rani.
“Van… jangan lawan. Kalau kamu lawan… kamu cuma bikin dia lapar.”
Aku memalingkan wajah. Mata “Rani” sekarang memiliki iris gelap, seperti manusia. Sempurna. Seolah benar-benar Rani.
“Rani… apa itu kamu…?”
Ia mendekat, lututnya menyentuh tumpukan tulang, dan memegang pipiku dengan tangan lembut.
Mirip tangan manusia.
Mirip Rani.
Hangat.
Untuk sejenak, aku merasakan… kenyamanan.
Lalu jari-jari itu tiba-tiba memanjang, menusuk pipiku dari dalam.
“Aku bukan Rani.”
Aku menjerit sekencang-kencangnya. Darah mengalir dari luka pipiku.
Makhluk bawah ranjang mencengkeram bahuku, menahan tubuhku agar tidak jatuh.
“Ayo, lihat dia baik-baik,” katanya.
“Saat satu dari kami naik ke dunia, ia memakai siapa pun yang paling kamu percaya.”
Makhluk raksasa di atas kami mendekat, bayangannya jatuh menyelimuti seluruh tubuhku.
Dalam pikiranku, suara besar itu menggemuruh:
“BERI AKU PINTU. BUKA KEPALA-MU.”
Aku memeluk kepala, hampir pingsan.
“Aku… aku nggak mau… aku nggak mau…”
Tulang di sekelilingku mulai berdiri sendiri, menyusun bentuk seperti tangan-tangan yang memegangku, menahanku. Menyuruhku pasrah.
“Rani” palsu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Wajahnya kini sudah sangat mirip manusia. Sangat mirip Rani.
“Buka, Van.”
“Biarkan dia masuk.”
Aku hampir menyerah.
Hampir.
Sampai suara kecil muncul dari jauh.
Suara yang tidak mungkin ada di sini.
Suara asli Rani.
“VAN!!! TAHAN!! AKU DATENG KE DALAM!! TAHAN!!”
“Rani…” bisikku.
Makhluk palsu menoleh ke atas, wajahnya langsung kembali cair, bocor, meleleh seperti lilin hitam.
Makhluk bawah ranjang menggeram kesal.
Makhluk raksasa meraung dengan suara yang membuat tulangku seakan retak.
Kesadaranku kabur.
Dunia berputar.
Aku tidak tahu mana Rani.
Mana yang palsu.
Mana yang nyata.
Dan mana… yang sedang mengincar pikiranku dari dalam kegelapan.
Komentar
Posting Komentar