PART 5 — “Di Bawah, Tidak Ada Cahaya”

PART 5 — “Di Bawah, Tidak Ada Cahaya”

Aku jatuh.

Bukan jatuh biasa—melainkan tertelan.
Ruang di bawah tempat tidurku, yang seharusnya hanya beberapa sentimeter, berubah menjadi jurang tanpa dasar.

Tubuhku meluncur ke bawah, seperti diseret angin dingin yang bergerak seperti tangan-tangan tak terlihat.

“RANIIIII!!!” teriakanku memantul berkali-kali, tapi suara Rani makin jauh… makin kecil… lalu hilang.

Gelap.
Gelap total.

Aku merasa melayang, tapi tubuhku seperti ditahan dari segala arah.
Seolah ada sesuatu yang memperhatikan bahkan dalam gelap pekat.

Lalu… lantai muncul tiba-tiba.

Aku tersungkur keras. Tulang pinggulku berbenturan dengan permukaan dingin seperti batu basah. Nafasku tercabik.

“A—ahhh…” aku mencoba bangkit.

Tapi lantai tempatku mendarat bukan lantai kamar.
Bukan kayu.
Bukan tanah.

Melainkan… tulang.

Tumpukan tulang putih kusam, retak, bergemeretak saat aku gerakkan tangan. Ada serpihan kecil… dan beberapa masih memiliki sisa daging mengering yang hitam.

“Apa… ini…” suaraku putus.

Dari kejauhan, terdengar suara napas seseorang.

Pelan.
Dalam.
Seperti makhluk raksasa yang tertidur.

Aku merangkak mundur.

Lalu—di atas tumpukan tulang itu—kulihat sesuatu bergerak tipis. Rambut hitam panjang. Lengan kurus. Dan mata bulat gelap yang mengintip dari balik kerangka rusak.

Makhluk bawah ranjang.

Tapi kini aku melihat keseluruhan tubuhnya.

Tubuhnya memanjang seperti ulat, tetapi dengan tulang punggung menonjol keluar. Setiap kali ia bergerak, tulang itu mengeluarkan krak… krak… yang membuat perutku terbalik.

Ia mendekat.
Merangkak dengan cekatan di atas tumpukan tulang, seolah itu hamparan lembut baginya.

“Darahmu…” suara retaknya muncul dari kegelapan.
“Bikin aku… ingat.”

Aku berusaha bangkit, tapi lututku bergetar. “Ingat… apa…?”

Makhluk itu tersenyum tanpa bibir.

“Siapa aku dulu.”

Dan tiba-tiba, cahaya merah kelam meledak di sekitarku.

FLASHBACK — Asal Mereka

Bukan cahaya dunia ini—lebih seperti bayangan yang menyala.

Aku berdiri di depan sebuah rumah tua…
rumahku sendiri…
tapi dalam versi berbeda. Kuno. Gelap. Retak-retak.

Dari dalam rumah, terdengar suara perempuan berteriak:

“Lepaskan anakku!!”

Aku terhuyung maju melihat pemandangan itu:
Seorang perempuan berlari, sementara dua makhluk seperti yang mengejarku menarik anak kecilnya ke lantai.

Bukan makhluk asing—lebih seperti… manusia yang dipatahkan.

Tubuh mereka bengkok.
Matanya kosong.
Tulang mereka seperti dipelintir.

Aku menatap anak itu—wajahnya mirip seseorang…
mirip aku.

“Aku…?” desisku.

Makhluk itu menggigit tangan anak kecil itu, menariknya ke bawah dipan tua yang patah. Sang ibu mencoba menahan, tapi tangan kurus itu terlalu cepat.

Anak itu diseret masuk.
Persis sepertiku.
Tempat tidur itu bergetar… lalu senyap.

Makhluk itu berbisik di telingaku tanpa bibir:

“Kami… bukan monster dulu.”

Flashback pecah.
Aku kembali ke dunia tulang dan kegelapan.


KEMBALI KE BAWAH RANJANG

Makhluk itu kini berdiri tepat di depanku—lebih dekat dari sebelumnya.
Ia menatapku.

“Anak itu… tidak pernah kembali,” katanya pelan.

Aku mundur, terpeleset tulang. “Kenapa kamu tunjukkan itu ke aku!?”

Makhluk itu tertawa pelan. “Supaya kamu tahu… kamu bukan yang pertama.”

Di kejauhan, sesuatu besar bergerak.

Bukan makhluk.
Bukan manusia.

Seperti bayangan yang tumbuh—tinggi, kurus, memanjang hingga menyentuh langit-langit dunia gelap itu.

Dari atas terdengar suara Rani:

“VAN!! AKU BUKA JALANNYA!!! TAHAN SEDIKIT LAGI!!!”

Aku menatap ke atas. Ada cahaya kecil terbuka—Rani menyeret kasur, mencoba memecahkan ruang itu.

Makhluk di depanku menoleh ke arah cahaya.

“Ah… dia ingin ikut turun.”

Aku gemetar. “Jangan—jangan sentuh Rani!”

Makhluk itu mendekatkan wajahnya padaku, kemudian bicara:

“Kalau kamu mau dia hidup… kamu harus tetap di sini.”

“Tidak. Aku nggak tinggal di sini!”

Makhluk itu memiringkan kepalanya. “Tapi dunia di atas… sudah menolak kamu.”

Lalu aku dengar sesuatu…

Suara gemerisik dari atas.
Suara kaki… merangkak turun.
Dari arah Rani.

Aku menoleh ke cahaya.

Siluet Rani muncul—tapi gerakannya… aneh.
Tidak seperti manusia.

“Rani…?” panggilku pelan.

Rani tidak membalas.
Dia hanya menunduk… lalu merangkak masuk ke lubang itu dengan gerakan patah-patah.

Makhluk di sampingku tersenyum.

“Satu dari kami… sudah menggantikannya di atas.”

Darahku berhenti mengalir.

“Yang di sana…” katanya pelan, “bukan Rani.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HOROR: POCONG DI POJOK KAMPUNG

NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 1

PART 1 THE SEVENTH CORRIDOR