PART 4 — “Tangan yang Tidak Seharusnya Menggenggam”
PART 4 — “Tangan yang Tidak Seharusnya Menggenggam”
Tangan itu mencengkeram kakiku.
Bukan sekadar memegang—tapi menggenggam, pelan namun pasti, seperti seseorang yang sedang mencicipi bagaimana rasanya menyentuh kulit manusia setelah sekian lama.
Jari-jarinya panjang, berkuku tebal, dan saat kuku itu menekan kulitku, aku bisa merasakan ujungnya yang dingin, lembap… mirip daging yang baru diangkat dari tanah basah.
“A—akh… Rani…” suaraku pecah, hampir tidak keluar.
Rani hanya bisa berdiri di sudut kamar. Matanya membesar, wajahnya pucat seperti kertas. “Van… dia narik kamu…”
Aku ingin lari. Tapi kakiku kaku. Seperti tubuhku menolak menurut perintah otak.
Makhluk itu menarik kakiku sedikit. Sangat sedikit. Gerakannya pelan.
Seakan ia menikmatinya.
Seakan ia ingin aku sadar penuh bahwa ia ada di belakangku.
Aku gemetar.
“Van… tolong… jangan diem… Van…” Rani hampir tersungkur.
Dari lemari, makhluk yang satunya lagi maju setapak. Langkahnya lambat, hampir seperti gerakan boneka rusak:
krek…
krek…
krek…
Setiap kali ia maju, suara tulangnya bergeser. Seolah tubuhnya disusun oleh sendi yang salah.
Wajahnya yang rata itu menunduk sedikit, memperhatikan kami seperti pengamat—bukan predator.
Namun matanya… dua lubang hitam itu… mengikuti setiap detikku.
Aku menarik napas berat, berusaha bicara, “Rani… ambil ap—apé—apa aja… pukul dia…”
Rani melihat sekeliling kamar—kosong. Tidak ada benda berat. Hanya bantal.
Dia mengambil bantal itu. Tangannya gemetar. “Aku… pakai ini? Bantal, Van? Serius…?”
Makhluk di lemari memiringkan kepala. Gerakannya mulus dan sunyi. Tidak manusiawi.
Lalu ia berbicara—pertama kali.
Bukan suara manusia.
Bukan bisikan.
Lebih mirip suara dua logam beradu, tapi dipaksa menjadi kata.
“Kenapa… kalian… takut?”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Rani menggigit bibir sampai berdarah.
Makhluk itu melanjutkan, dengan nada tenang yang malah lebih mengerikan:
“Aku… belum… mulai.”
Tiba-tiba tangan di bawah tempat tidur MENARIK KAKIKU KERAS.
“AARRGH!!” aku terseret setengah meter.
Kulit betisku tergores lantai. Panas. Perih. Darahku langsung keluar.
Aku mengais lantai, berusaha menahan tubuhku agar tidak terseret masuk ke bawah ranjang. Tapi makhluk itu jauh lebih kuat.
Rani menjerit, “VAN!!!”
Ia berlari dan memeluk pinggangku, mencoba menarikku kembali. Tubuhku seperti tali tambang yang ditarik dua arah—dan makhluk itu menang.
“RANI LEPAAAS!!!” jeritku.
“Aku nggak mau lepas!”
Makhluk di bawah ranjang menarikku lagi, lebih kuat. Aku terangkat sedikit, lututku bergesekan dengan lantai, menimbulkan goresan panjang berdarah.
Aku berteriak kesakitan.
Dan di tengah kekacauan itu…
Makhluk di lemari hanya mengamati. Menikmati. Senyumnya—atau apa pun bentuk itu—terbuka lebih lebar.
Kraaaak.
Kuku makhluk bawah ranjang menembus sedikit kulit di pergelangan kakiku. Darah menetes ke lantai.
Aku bisa merasakan kulitku robek pelan… sangat pelan… seolah ia sengaja menahan rasa sakitnya supaya aku merasakan semuanya.
“Van, aku tarik ya… aku tarik! Satu… dua—”
Tiba-tiba makhluk bawah ranjang menghentikan tarikan.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Kemudian ia… mengusap pergelangan kakiku yang berdarah.
Lembut. Perlahan. Hampir… sayang?
Aku menahan napas. Rani juga.
Lalu…
Makhluk itu mendekatkan wajahnya ke kulitku.
Aku bisa merasakan rambutnya yang gondrong menyentuh pergelangan kakiku…
Dan…
Ia menjilat darahku.
Lidahnya kasar, seperti kertas amplas. Dan dingin. Dingin sekali.
Aku menendang panik. “RANI LEPASKAN AKU!!!”
Rani menarikku sekuat mungkin. “AKU COBA, VAN!!!”
Makhluk bawah ranjang tertawa rendah, suara tercekat seperti seseorang yang tenggelam.
“Hheheh… enaaak…”
Makhluk di lemari perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arahku.
“Bawa… dia.”
Dan tepat setelah itu—
Makhluk bawah ranjang MENYERETKU MASUK DENGAN KEKUATAN PENUH.
“VAAAAN!!!” Rani menjerit sekencang mungkin.
Aku hanya sempat melihat sekilas lantai yang menjauh…
selimut yang tertendang…
dan wajah Rani yang dihantam ketakutan…
Sebelum kegelapan di bawah ranjang menelanku bulat-bulat.
Komentar
Posting Komentar