PART 3 — “Yang Merayap Keluar”
PART 3 — “Yang Merayap Keluar”
Tangannya… keluar duluan.
Panjang, kurus, pucat kebiruan… seperti tangan seseorang yang sudah terlalu lama terkubur. Uratnya menonjol, kuku hitamnya melengkung seperti sudah bertahun-tahun tidak dipotong.
Aku dan Rani tidak bergerak. Tidak berani bicara.
Bahkan rasanya… tidak berani bernapas.
Lemari itu mengeluarkan suara krek… krek… setiap kali makhluk itu menggeser tubuhnya. Langkahnya lambat. Seolah ia ingin memastikan setiap detik terasa seperti siksaan.
Rani bergidik, suaranya hanya setipis napas, “Van… dia ngeliatin kita nggak sih…?”
Aku tidak menjawab. Karena kalau aku membuka mulut… aku yakin rahangku bakal gemetar.
Mata itu—dua lubang hitam bulat yang terlalu besar—tidak pernah lepas dari kami.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Seperti mata bangkai, tapi dengan kesadaran yang penuh.
Saat akhirnya kepalanya muncul dari kegelapan lemari, aku merasakan kulit belakangku meremang sampai tulang.
Bukan wajah manusia.
Wajahnya rata. Kulit pucatnya menempel langsung seperti lilin yang meleleh. Tidak ada hidung. Tidak ada bibir. Hanya cekungan menganga… lebih mirip robekan… tempat mata itu berada.
Makhluk itu berhenti setengah keluar. Diam saja, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang hanya dia yang bisa dengar.
Hening.
Hening sekali.
Bahkan suara kipas pun terdengar seperti jauh.
Lalu…
Tok…
Satu ketukan kecil di lantai kamar.
Aku tersentak. “Rani… itu kaki dia?” bisikku.
Rani menggeleng sambil mundur. “Bukan… itu dari bawah tempat tidurmu.”
Darahku seperti turun drastis. Bagian bawah tempat tidurku gelap, kosong, tidak pernah ada barang di situ.
Tapi aku mendengar sesuatu bergerak di sana.
Perlahan.
Sangat pelan.
Seperti seseorang—atau sesuatu—sedang merangkak keluar dari ruang kecil itu… dari arah kepalaku.
Makhluk di lemari masih diam.
Tapi makhluk di bawah ranjang… bergerak.
Kres…
Kres…
“Van…” suara Rani pecah. “Kita… kejebak.”
Aku mengangkat tangan, memberi isyarat agar dia tetap diam. Aku mencoba memutar gagang pintu lagi dengan perlahan.
Tetap terkunci.
Aku merasakan hangat di belakang betisku.
Seperti… napas.
Pelan.
Berulang.
Teratur.
Aku merinding. “Rani… dia di belakang aku…?”
Rani menutup mulutnya. Tidak bicara.
Aku memaksa untuk tidak menoleh.
Satu…
Dua…
Tiga…
Aku menatap lantai perlahan. Ada bayangan. Bukan bayanganku. Bukan bayangan Rani. Tapi bentuknya merangkak… menempel lantai… panjang… tidak manusiawi.
Saat itu…
Makhluk di lemari mengeluarkan suara pertama kali.
Bukan jeritan.
Bukan desis.
Tapi tawa kecil. Pelan. Retak. Seperti seseorang tertawa sambil diseret.
“Hhe… hheh… heheh…”
Aku tersengal. “Ran… lari ke jendela.”
Rani memandangku. “Jendela… lantai dua, Van.”
“Lebih baik lompat daripada tetap di sini.”
Makhluk di bawah tempat tidur menggesekkan sesuatu ke lantai.
Krsssshhhh…
Perlahan makin dekat.
Tawa makhluk di lemari makin jelas.
“Van… dia nyamperin kamu…” Rani menangis tanpa suara.
Aku tidak berani bergerak. Tidak berani menatap ke belakang.
Hanya bisa menunggu.
Merasakan.
Napas makhluk itu mendekat…
Dan mendekat…
Dan berhenti tepat di belakang lututku.
Dan kemudian…
Ia memegang kakiku.
Komentar
Posting Komentar