SEASON 1- CERITA ASMARA
❤️ SEASON 1 — “Aku Menikah Bukan Dengan Pilihan Hatiku”
Hari itu aku duduk di pelaminan.
Senyum yang kupakai hanyalah topeng.
Di depanku, tamu-tamu menyalami sambil berkata,
“Selamat ya, kalian pasangan serasi…”
Mereka tidak tahu bahwa lelaki yang duduk di sampingku bukan orang yang kucinta.
Dan mereka tidak tahu…
Bahwa lelaki yang sebenarnya kucintai berdiri di barisan tamu, menatapku tanpa suara.
Namanya Dira.
Orang yang pernah berjanji tidak akan pergi dari hidupku.
Orang yang kutunggu bertahun-tahun.
Tapi takdir mempermainkan kami.
Saat mataku bertemu matanya, dia tersenyum kecil.
Tersenyum… seolah ingin bilang bahwa semua baik-baik saja.
Padahal kami berdua tahu—
Tidak ada yang baik-baik saja hari itu.
Bersambung ke PART 2…
❤️ PART 2 — “Kenapa Baru Datang Sekarang?”
Aku tersenyum kaku saat dia menyalamiku.
“Selamat ya,” katanya pelan.
Suara itu… suara yang dulu membuatku merasa aman.
“Terima kasih,” jawabku dengan tenggorokan yang terasa tercekik.
Dia menatap cincin di jariku beberapa detik.
Lalu ia melepaskan tanganku sambil berbisik:
“Kenapa baru bilang sekarang bahwa kamu akan menikah?”
Dadaku seperti dijerat.
“Aku kirim pesan… tapi kamu tidak baca,” jawabku.
Dia memejamkan mata sebentar.
“Aku baca… tapi terlambat.”
Aku ingin marah.
Ingin menahan tangannya.
Ingin berkata bahwa seharusnya dia datang lebih cepat.
Bahwa aku tidak pernah berhenti menunggu.
Tapi semua kata itu tertahan oleh satu kalimat sederhana yang dia ucapkan sebelum pergi:
“Andai kamu tahu… aku kembali ke kota ini untuk melamarmu.”
Dunia seolah berhenti.
Bersambung ke PART 3…
❤️ PART 3 — “Janji yang Tidak Sempat Tepati”
Setelah acara selesai, aku duduk di kamar sendirian.
Gaun pengantin masih melekat, rasanya semakin berat.
Di meja rias, ada kotak kecil.
Kotak pemberian Dira, bertahun-tahun lalu.
Aku membukanya.
Isinya gelang kecil dari tali.
Sederhana, tapi penuh kenangan.
Aku mengusapnya sambil mengingat terakhir kali kami bertemu.
Waktu itu Dira berkata:
“Kalau aku berhasil dapat kerja tetap, aku balik buat melamar kamu.”
Aku menunggu.
Dan menunggu.
Dan menunggu.
Tapi dia menghilang selama dua tahun.
Hari ini baru kutahu alasannya…
dari pesan yang ia kirim jam 3 pagi:
“Maaf aku pergi lama.
Ayahku sakit.
Aku harus kerja apa pun untuk bayar rumah sakit.
Tapi aku kembali sekarang.
Untuk kamu.
Kalau kamu masih mau.”
Aku menitikkan air mata.
Karena pesan itu terkirim tiga jam sebelum pernikahanku dimulai.
Bersambung ke PART 4…
❤️ PART 4 — “Suami yang Terlalu Baik”
Suamiku, Raga, mengetuk pintu.
“Kamu capek? Mau kubuatkan teh?”
Dia… terlalu baik.
Terlalu lembut.
Terlalu tulus.
Dan itu membuatku semakin merasa bersalah.
“Kamu pasti masih belum terbiasa,” katanya sambil duduk di sampingku.
“Santai saja. Aku tidak akan memaksamu apa pun.”
Aku hanya mengangguk.
Raga menatapku sebentar.
“Aku tahu kamu menikah karena desakan keluarga.”
Dia tersenyum pahit.
“Tapi kalau kamu mau, kita mulai semuanya pelan-pelan.”
Dia memegang tanganku.
Sentuhannya hangat…
tapi hatiku tidak ikut hangat.
Karena yang teringat hanya satu nama—
Dira.
Aku menarik tanganku perlahan.
“Maaf… aku butuh waktu.”
Raga tersenyum lagi.
“Ambil waktu sebanyak yang kamu perlu. Aku… akan tetap di sini.”
Dan justru sikapnya yang terlalu baik itu…
membuat hatiku semakin kacau.
Bersambung ke PART 5…
❤️ PART 5 — “Pertemuan Yang Tak Bisa Kuhindari”
Beberapa minggu berlalu.
Aku sudah mencoba menghindari semua tempat yang mungkin mempertemukanku dengan Dira.
Tapi takdir…
Tak pernah bisa dihindari.
Hari itu hujan deras.
Aku berteduh di depan minimarket.
Dan dari balik hujan…
aku melihat seseorang berjalan sambil memegang payung hitam.
Dira.
Dia berhenti di depan minimarket.
Menatapku dengan mata yang sama seperti dulu—
mata yang penuh kerinduan yang tertahan.
“Kamu kelihatan lelah,” katanya.
Aku tertawa pelan.
“Perempuan yang baru menikah memang suka lelah.”
“Tidak,” jawabnya datar.
“Kamu… lelah menahan diri.”
Aku tidak bisa membalas.
Dira mengulurkan payungnya.
“Aku antar pulang.”
“Tidak perlu.”
“Aku cuma ingin pastikan kamu baik-baik saja.”
Aku menatap hujan.
Kemudian menatap dirinya.
Dan aku tahu…
aku tidak selamat hari itu.
Bersambung ke PART 6…
❤️ PART 6 — “Pertanyaan yang Tidak Boleh Dijawab”
Dalam perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara.
Hanya suara hujan yang memecah keheningan.
Tapi sesampainya di depan rumah, Dira tiba-tiba berhenti.
“Aku cuma mau tanya satu hal.”
Aku menatapnya.
Tidak siap.
Tidak ingin.
Tapi tetap harus mendengar.
Dia menarik napas panjang.
“Kalau aku datang satu hari lebih cepat…
kamu masih akan menikah dengannya?”
Hatiku retak.
Aku ingin berkata: Tidak, aku akan memilihmu.
Ingin berteriak: Aku masih mencintaimu sampai sekarang.
Tapi aku hanya terdiam.
Dan keheninganku sudah cukup menjawab semuanya.
Dira tersenyum pahit.
“Kamu tidak perlu jawab. Aku… sudah tahu.”
Dia berbalik.
Langkahnya pelan.
Tapi sebelum ia masuk ke mobil, ia berkata:
“Kalau kamu tidak bahagia… kamu tahu di mana harus mencariku.”
Bersambung ke PART 7…
❤️ PART 7 — “Hati yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi”
Hari-hari setelah itu terasa menyiksa.
Raga tetap baik.
Tetap perhatian.
Tetap sabar.
Dan setiap kebaikannya justru menusukku lebih dalam.
Suatu malam saat aku mengecek ponsel, ada pesan dari nomor tak dikenal.
Dira.
“Aku dapat kerja tetap.
Rumahnya tidak jauh dari rumah kamu.
Kalau mau ngobrol… aku selalu ada.”
Aku menahan diri untuk tidak membalas.
Tapi jari-jariku gemetar.
Dadaku sesak.
Mataku panas.
Karena di hati kecilku…
aku ingin sekali pergi menemui dia.
Namun aku menahan diri.
Sampai akhirnya Raga berkata sesuatu yang membuat semuanya runtuh:
“Besok aku dinas luar kota tiga hari. Kamu jaga diri di rumah, ya?”
Aku mengangguk.
Tapi hatiku tahu…
Aku tidak akan sanggup melewati tiga hari itu sendirian.
Bersambung ke PART 8…
❤️ PART 8 — “Kesalahan yang Sudah Kuprediksi”
Hari pertama tanpa Raga…
Rumah terasa terlalu sunyi.
Pukul 21.03, ponselku bergetar.
Dira mengirim pesan:
“Boleh aku titip buku?
Aku sedang lewat depan rumah kamu.”
Jantungku melompat.
Aku tidak menjawab.
Tapi aku membuka pintu.
Dia berdiri di sana.
Basah oleh hujan.
Napasnya memburu.
“Saya cuma… ingin lihat kamu baik-baik saja,” katanya pelan.
Aku ingin menutup pintu.
Tapi tangan Dira menahan.
“Minta satu menit saja. Habis itu aku pergi.”
Aku tidak tahu apa yang ada di kepalaku saat itu.
Yang aku tahu…
aku membiarkannya masuk.
Dan satu menit yang dia minta…
berubah menjadi satu jam.
Lalu dua jam.
Dan pada detik ketika dia menggenggam tanganku—
semua batas yang selama ini kujaga runtuh begitu saja.
Bersambung ke PART 9…
❤️ PART 9 — “Cinta atau Pelarian?”
Kami duduk di sofa.
Hanya lampu temaram yang menyinari.
Dira menggenggam tanganku erat.
“Kamu masih cinta sama aku,” katanya perlahan.
Aku menutup mata.
“Cinta tidak selalu harus dimiliki,” jawabku lirih.
“Tapi kamu tidak bahagia,” balasnya cepat.
Aku menarik tangan.
“Dira… aku sudah menikah.”
Dia tersenyum pahit.
“Maka aku hanya akan nunggu. Sampai kapan pun.”
Aku menatapnya.
Ada luka lama yang kembali terbuka.
Ada cinta lama yang kembali hidup.
Tapi ada juga rasa takut.
“Kalau aku memilih kamu… aku menyakiti suamiku.”
“Kalau kamu tidak memilih apa yang kamu benar-benar cintai…
kamu menyakiti diri kamu sendiri.”
Aku tercekat.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari apa pun.
Saat itu…
suara mobil berhenti di depan rumah.
Lampu depan menyala.
Aku menatap jendela dengan panik.
Itu mobil Raga.
Dan dia tidak seharusnya pulang malam ini.
Bersambung ke PART 10…
❤️ PART 10 — “Akhir atau Awal?” (Epilog)
“Aku harus pergi,” kata Dira cepat.
Wajahnya tegang.
Aku mendorongnya ke pintu belakang.
Tapi sebelum dia keluar, dia menggenggam wajahku.
“Kalau kamu bahagia bersamanya… aku akan pergi.
Kalau kamu tidak bahagia…
aku akan tetap di sini.”
Dia menatapku dalam.
Sebegitu dalamnya…
Seolah ingin mengingat wajahku untuk terakhir kali.
Lalu dia berlari keluar.
Tepat saat itu pintu depan terbuka.
Raga masuk dengan koper kecil.
Wajahnya lelah, tapi tersenyum hangat.
“Surprise… pekerjaannya selesai lebih cepat,” katanya.
Aku tersenyum palsu.
Tapi jantungku berdetak kencang.
Karena di balik tirai jendela belakang…
kutangkap bayangan Dira masih berdiri di luar, menatap rumah ini.
Menunggu.
Dan malam itu aku sadar—
Aku harus memilih.
Sesegera mungkin.
Sebelum segalanya hancur.
Tamat.
Atau awal dari bab baru?
Komentar
Posting Komentar