NOVEL: MISTERI RUMAH TUA 4
Bab 19 – Ketukan dari Bawah Lantai
Pak Ramang berdiri mematung di tengah kamar gelap.
Senter di tangannya bergetar, cahaya kecil itu menari di dinding yang penuh pahatan kata-kata ketakutan.
Tuk… tuk… tuk…
Ketukan itu kembali terdengar.
Pelan.
Teratur.
Seperti pola.
Suara itu bukan dari pintu, bukan dari jendela—tapi dari bawah lantai kayu kamar ini.
Nafas Pak Ramang tercekat.
Kerongkongannya kering, seakan menelan jarum.
Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar:
“Ada… orang di bawah sana…?”
Tidak mungkin.
Rumah ini kosong bertahun-tahun.
Tidak ada lubang ke bawah tanah.
Tidak ada basement.
Namun… ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih cepat:
Tuk-tuk-tuk. Tuk-tuk-tuk.
Pola tiga kali — hening — tiga kali — hening.
Seperti kode.
Pak Ramang mundur. Lututnya lemas.
Lantai kayu itu seperti hidup—seolah ada tangan yang meninju dari sisi lain.
Dia memanggil lirih:
“Halo? Siapa di bawah…?”
Hening panjang.
Lalu…
Suara pelan dari bawah lantai, seperti bisikan anak kecil:
“Aku… di sini…”
Bab 20 – Pengakuan di Rumah Gelap
Pak Ramang berlari keluar kamar, napasnya memburu.
Di ruang tamu, warga memeluk anak ODGJ itu, mencoba menenangkan jeritannya.
Anak itu menangis histeris:
“Jangan gelap! Jangan gelap! Sam… sembunyi… dia taruh aku di bawah… dia bilang aku tidur… lama… gelap… gelap…”
Hilmi terpaku.
Darto memandang Pak Ramang dengan wajah pucat:
“Pak… anak itu bicara soal… ‘ditaruh di bawah’…”
Kalimat itu menimpanya seperti palu.
Ketukan di bawah lantai… pahatan tulisan di lemari: “DIMANA ANAK LAIN?”
Pak Ramang menarik napas dalam-dalam.
“Kita gali lantai itu malam ini juga.”
Warga menatapnya tak percaya.
Santi gemetar:
“Pak… kalau itu bukan manusia? Kalau itu… sesuatu lain?”
Pak Ramang menjawab dengan suara rendah namun tajam:
“Yang paling menakutkan bukan hantu, tapi manusia yang menyembunyikan dosa.”
Bab 21 – Penggalian Tengah Malam
Jam 01.55 dini hari.
Hujan berhenti, menyisakan bau tanah basah.
Tiga warga—Pak Ramang, Darto, dan Hilmi—kembali ke kamar belakang membawa linggis, palu besi, dan tiga senter.
Kamar itu terasa dingin.
Kursi goyang masih bergoyang pelan tanpa sebab.
Pak Ramang menunjuk titik asal ketukan tadi.
Lantai kayu berwarna tua, retak di bagian sudut.
“Di sini.”
Darto mengangkat linggis, menelan ludah, dan mulai membongkar papan kayu.
KRRAAK—!
Papan pertama terlepas.
Di bawahnya gelap gulita.
KRRAAK—!
Papan kedua diangkat.
Bau apek menyengat, menyilaukan mata.
Ketiganya menyorot senter ke bawah.
Yang mereka lihat membuat darah mereka membeku.
Ada ruang sempit, seperti lubang peti terkubur.
Tidak cukup untuk orang dewasa—hanya cukup untuk anak kecil.
Dan di dinding tanah lubang itu, ada goresan kuku… ratusan… berjejak spiral—tanda seseorang menggaruk-garuk dari dalam.
Hilmi mundur, wajahnya pucat:
“YA ALLAH… ini… tempat… dikurung…!”
Sebelum mereka sempat bicara lagi, dari dalam gelap terdengar napas pelan.
Bukan napas angin.
Bukan gema.
Napas manusia.
Lambat. Berat.
Seperti orang yang hampir tidak sadar.
“Tolong…”
Suara itu sangat lemah.
Tiga warga saling menatap, wajah pucat.
Pak Ramang menyorot lebih dalam.
Tangannya basah oleh keringat dingin.
“Siapa di sana?! Ada siapa di bawah?!”
Sekali lagi… suara itu:
“Aku… di sini…”
Tapi kali ini jelas: suara itu bukan suara anak ODGJ yang mereka selamatkan.
Suara ini… lebih kecil. Lebih muda.
Bab 22 – Bayi atau Bayangan
Warga berlarian membawa talitemali, senter tambahan, dan tali jemuran.
Beberapa wanita menjerit ketakutan, sebagian menangis.
Santi memegangi mulutnya, air mata mengalir:
“Pak… berarti… selama ini ada dua anak…”
Hilmi linglung:
“Yang satu selamat—tapi trauma. Yang satu… terkubur hidup-hidup?”
Darto menggeleng panik:
“Tidak… tidak mungkin ada yang hidup di bawah sana bertahun-tahun…”
Namun suara napas itu jelas.
Dan suara lirih itu… terus memanggil.
“Sam…”
Pak Ramang hampir kehilangan suara.
Bagaimana mungkin?
Pak Samson meninggal tiga tahun lalu…
Bu Seina meninggal dua tahun lalu…
Rumah ini kosong selama dua tahun.
Lalu bagaimana seseorang masih bernapas di bawah lantai?
Tidak masuk akal.
Tidak mungkin.
Kecuali…
Anak itu masuk setelah rumah kosong.
Dan mencoba menggali keluarnya sendiri.
Tapi terperangkap dalam ruang sempit itu.
Pak Ramang merasakan dingin menusuk tulang.
Bayangan paling buruk mulai muncul:
Anak kedua ini mungkin adalah “anak lain” yang hilang dari klinik dulu.
Bab 23 – Pengangkatan
Dengan hati-hati, mereka menurunkan tali ke dalam lubang.
Hilmi turun perlahan, perutnya menempel dinding tanah.
Gelap.
Pengap.
Sempit.
Tangannya menyentuh sesuatu lembut dan lembab: kulit manusia.
“Ya Allah…”
Di sudut lubang, terbaring anak kecil, usia sekitar 6 tahun, tubuh kurus, mata tertutup, napas sangat pelan.
Tidak bergerak, kecuali dada naik turun perlahan.
Setelah berjuang, akhirnya mereka mengangkat anak itu keluar.
Wajahnya pucat, bibir kering, kuku terkelupas.
Dan saat senter menyorot wajahnya—warga menjerit.
Di pipi anak itu… ada luka bekas suntikan lama.
Dan di lengan kirinya—tertulis huruf “S” dengan pahat.
S untuk SAM?
Atau S untuk Sampel?
Pak Ramang hampir pingsan memikirkan kemungkinan paling buruk.
Bab 24 – Mata yang Kembali
Di puskesmas, dua anak itu dipisahkan.
Satu gemetar tanpa suara.
Satu napasnya setipis benang.
Saat dokter membersihkan tubuh anak kecil itu, matanya terbuka sedikit.
Ia menatap lampu neon yang terang—dan mulutnya bergerak pelan:
“Jangan matikan lampu…”
Kata-kata yang sama.
Kalimat yang datang dari kedalaman traumatis yang sama.
Dokter memandang Pak Ramang:
“Pak… ini bukan kebetulan. Mereka pernah berada di tempat yang sama.”
Pak Ramang duduk lemas di kursi.
Bisikan masa lalu Pak Samson muncul lagi:
“Aku menyelamatkan nyawa seorang anak kecil… tapi itu bukan pertolongan.”
Ia tidak menyelamatkan anak.
Ia mengambil dua anak.
Dan mengurung mereka dalam gelap.
Bab 25 – Surat Terakhir Bu Seina
Saat warga membersihkan kamar Bu Seina, di bawah kasurnya ditemukan sebuah buku catatan tipis.
Tinta di halaman pertama sudah pudar.
Tulisan tangan Bu Seina:
“Anak itu menangis setiap malam. Samson bilang itu hanya terapi. Tapi aku tahu itu bukan terapi…”
Halaman berikutnya:
“Aku ingin membuka pintu kamar itu. Tapi Samson bilang aku tidak boleh mendekat. Dia bilang aku tidak mengerti ilmu medis.”
Halaman ketiga:
“Aku mendengar suara kecil memanggil ‘Sei…’. Aku berpura-pura tidak mendengar. Aku takut pada suamiku sendiri.”
Halaman terakhir:
“Kalau suatu saat ada yang menemukan catatan ini… tolong selamatkan mereka. Samson tidak ingin ada yang tahu apa yang dia lakukan. Tapi aku tidak kuat menyimpan rahasia ini ke kuburku…”
Di bawahnya, tergores tinta samar:
“Aku menulis ini di gelap. Aku dengar mereka masih hidup. Mereka masih… mengetuk.”
Bagian Akhir Bab 25
Rahasia itu akhirnya terbuka.
Tidak ada hantu.
Tidak ada arwah gentayangan.
Yang ada:
Dua anak—ditelan gelap bertahun-tahun, dan tidak ada yang mendengar teriakan mereka.
Misteri yang membuat bulu kuduk berdiri bukan makhluk tak kasat mata—tapi kenyataan bahwa kejahatan paling menyeramkan bisa bersembunyi rapi di rumah paling sepi, dilakukan oleh seseorang yang oleh dunia dikenal sebagai “penolong”.
Dan malam itu…
ketika angin kembali menggesek bambu…
seolah terdengar lagi suara lemah…
“Sam… son…”
tapi kali ini bukan suara mengerikan…
melainkan suara anak yang akhirnya ditemukan.

Komentar
Posting Komentar