NOVEL : MISTERI RUMAH TUA 3
Bab 15 – Bisikan dari Balik Jendela
Sejak terungkapnya masa lalu kelam Pak Samson, warga mulai menutup diri. Gang yang biasanya ramai, kini terasa seperti lorong sepi tanpa suara. Rumah-rumah menutup tirai lebih cepat. Dan setiap langkah melewati rumah tua itu terasa seperti melewati gerbang menuju masa lalu yang berlumur dosa.
Namun Pak Ramang tidak bisa tidur. Surat itu menghantuinya.
Kalimat yang terus terngiang di kepalanya:
“Dia akan datang mencariku.”
Siapa “dia”?
Anak itu? Atau sesuatu lain yang disembunyikan Pak Samson?
Pukul 02.15 dini hari, hujan turun perlahan. Rintiknya jatuh seperti jemari yang mengetuk genting. Langit kelam, dan satu-satunya cahaya berasal dari lampu jalan yang berkedip lemah.
Pak Ramang duduk di kursi ruang tamunya, menatap gelas kopi yang sudah dingin. Ada rasa tidak enak menggelitik pikirannya.
Ia berdiri, mengambil jas hujan, dan diam-diam membuka pintu.
Halaman gang gelap.
Rumah Pak Samson terlihat seperti bayangan hitam besar di ujung gang.
Saat ia berjalan mendekat, tiba-tiba… jendela rumah tua itu terbuka perlahan, berdecit panjang.
Suara gesekan kaca terdengar jelas di tengah hujan.
Pak Ramang berhenti. Napasnya mengecil.
Ia menatap jendela itu—tirai lusuh bergerak, tertiup angin.
Lalu, tiba-tiba… bayangan wajah muncul di balik kegelapan.
Wajah pucat, mata kosong… seolah menatap tepat ke matanya.
Pak Ramang tergagap:
“Siapa di sana?!”
Hening.
Sejenak, hanya suara hujan yang menjawab.
Lalu suara itu datang:
“Sam… son…”
Kali ini lebih jelas. Bukan bisikan dari angin—suara manusia.
Pak Ramang mundur selangkah, jantungnya memukul dada.
Begitu ia hendak memanggil warga, jendela menutup keras, seperti ada tangan yang membantingnya dari dalam.
BRAK!
Suara itu menggema sepanjang gang.
Anjing-anjing menggonggong di kejauhan.
Lampu rumah warga satu per satu menyala. Orang-orang keluar, membawa senter.
Darto berlari ke arah Pak Ramang.
“Pak! Pak! Ada apa?!”
Pak Ramang menunjuk jendela itu, suaranya bergetar:
“Tadi… ada wajah. Dia memanggil nama Samson.”
Warga lain mengerubungi. Beberapa dari mereka gemetar ketakutan.
Santi berbisik pelan, hampir tak terdengar:
“Dia… anak itu masih di dalam…?”
Darto menggeleng cepat, “Tidak mungkin! Dia sudah di puskesmas!”
Suara dari dalam rumah pelan-pelan terdengar…
lirih, terpotong-potong, seperti seseorang yang sedang menahan tangis:
“Aku… takut gelap…”
Semua orang terdiam.
Tidak ada yang berani bergerak.
Bab 16 – Ketukan di Dalam Rumah
Pak Ramang sadar… sesuatu tidak beres.
Seseorang—atau sesuatu—ada di rumah itu.
“Kita harus cek,” ujarnya tegas, meski wajahnya pucat.
Warga saling pandang.
Tidak ada yang mau masuk. Tapi mereka tidak bisa mundur.
Akhirnya, Darto, Hilmi, dan Pak Ramang memegang senter dan berjalan menuju pintu.
Setiap langkah terasa berat, seakan tanah menyedot kaki mereka.
Saat tiba di depan pintu, hujan berhenti mendadak.
Udara berubah dingin seperti lemari pendingin.
Pintu kayu itu terlihat rapuh, retak, namun tertutup rapat.
Darto menelan ludah.
“Pak… kalau ada sesuatu… kita mundur.”
Pak Ramang tidak menjawab.
Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Gelap.
Cahaya senter menembus sedikit ruangan, memperlihatkan lantai berdebu, kursi goyang, dan lemari kayu tua.
Tiba-tiba…
Kursi goyang bergerak sendiri.
Perlahan. Berayun maju-mundur.
Tidak ada angin. Tidak ada orang.
Hilmi memegangi dadanya:
“Ya Allah…”
Suara dari arah kamar terdengar lagi:
“Sam… jangan tinggalkan aku dalam gelap…”
Kali ini suaranya penuh kesedihan.
Penuh trauma.
Pak Ramang maju satu langkah, meski lututnya lemas:
“Siapa kamu?!”
Hening.
Lalu dari dalam kamar, terdengar ketukan pelan di lantai:
tok… tok… tok…
Berulang. Teratur.
Seperti kode. Seperti pesan.
Hilmi berbisik:
“Pak… itu suara orang yang ketakutan. Bukan hantu.”
Pak Ramang menggigit bibirnya.
Ada rasa sesal—terlalu dalam untuk diucapkan.
Bab 17 – Ruang yang Terkunci
Mereka mendekati pintu kamar belakang. Gagang pintu dingin, seolah membeku.
Darto menyorot senter ke bawah pintu.
Ada bayangan kaki telanjang… kotor… kurus.
Darto berteriak:
“Siapa di dalam?!”
Tidak ada jawaban… tapi terdengar napas berat, cepat, seperti orang hiper-ventilasi.
Pak Ramang perlahan memutar kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Cahaya senter menembus kegelapan.
Dan di pojok kamar… ada seseorang, memeluk lututnya, wajahnya tenggelam di antara kakinya.
Tubuhnya gemetar.
Dia membisik lirih:
“Jangan matikan lampunya… Sam… aku takut gelap… aku tidak ingat siapa aku…”
Pak Ramang menutup mulutnya.
Warga di belakangnya menahan napas.
Itu bukan hantu.
Itu anak itu—ODGJ—yang seharusnya di puskesmas.
Bagaimana dia bisa kembali?
Kapan dia keluar? Siapa yang membawanya pulang?
Warga saling menatap, bingung, tidak percaya dengan mata kepala sendiri.
Anak itu pelan-pelan mengangkat wajahnya.
Mata merah, cekung, penuh ketakutan.
Dia menatap Pak Ramang:
“Sam bilang… aku harus pulang. Rumahku di sini. Rumah gelap. Rumah sakit… suara-suara…”
Hilmi memegangi tembok agar tidak jatuh:
“Pak… ini… dia mendengar suara yang tidak ada…”
Anak itu menggumam lagi:
“Sam masih di sini…”
Pak Ramang mencoba menenangkan:
“Sam sudah meninggal. Kamu aman.”
Anak itu menggeleng keras, memukul kepalanya:
“Tidak… dia di sini… dia jahat… dia sembunyikan aku dalam gelap… dia bisikkan nama aku setiap malam…”
Tiba-tiba ia menatap senter terang dengan wajah ketakutan, lalu menjerit:
“Jangan matikan lampunya! Jangan matikan lagi! Aku tidak mau gelap itu!”
Jeritan itu menusuk telinga, membuat warga mundur.
Airmata mengalir dari mata anak itu, bercampur debu.
Bab 18 – Misteri yang Mulai Terbuka
Ketika warga menenangkan anak itu dan membawanya keluar, Pak Ramang kembali ke kamar.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang.
Ia menyinari lemari tua.
Tampak goresan-goresan di permukaan kayu, seperti tulisan orang yang mencoba mengingat sesuatu dalam gelap:
“AKU DI SINI. AKU TAKUT.”
“SAM.”
“JANGAN MATIKAN LAMPU.”
“AKU LUPA NAMA.”
Tulisan itu dipahat dengan benda tajam, berulang-ulang, hingga kayunya berlubang.
Dalam salah satu sudut lemari, ada pahat terakhir, lebih dalam:
“SAM—DIMANA ANAK LAIN?”
Pak Ramang menyipitkan mata.
Anak lain?
Hatinya bergetar.
Apa maksudnya… ada lebih dari satu anak?
Genggaman pada senter menguat.
Kamar terasa semakin dingin.
Angin seolah berhenti.
Dan dalam hening tebal itu, terdengar sesuatu… sangat pelan, hampir tidak terdengar…
Suara dari bawah lantai kayu.
Tuk… tuk… tuk…
Seperti… ketukan minta tolong dari dalam tanah.
Pak Ramang mundur, wajahnya memutih.
“Ya Allah… jangan-jangan…”
Senter bergetar di tangannya.
Mata melebar.
Dan kalimat terakhir dari surat itu kembali menghantam pikirannya:
“Dia akan datang mencariku.”
Tapi kini, Pak Ramang sadar…
"Dia" bukan cuma satu.
Dan mungkin…
ada yang lain terkubur dalam rumah itu.

Komentar
Posting Komentar