HOROR: LORONG KE 7 SEASON 2
BAB 11 — RUANG YANG BERUBAH SENDIRI
Gelap.
Raina membuka mata. Ia terbaring di lantai dingin. Di sampingnya, Ferdi terengah-engah sambil memeluk kamera yang retak di bagian bawahnya.
“Ferdi… kau masih hidup?”
“Gue? Iya. Lo tadi pingsan…”
Ferdi menunjuk dinding.
“Dan tempat ini berubah.”
Ruang Isolasi 07 kini menjadi lorong panjang dengan lantai basah seperti baru dipel.
Raina berdiri pelan. “Rumah sakit ini bergerak. Seperti… merespons kita.”
Dalam gelap jauh di ujung lorong, terdengar suara logam beradu.
Teng… teng… teng…
Ferdi mengangkat kamera. “Apa itu?”
Raina menatap lorong. “Seseorang mengajak kita datang.”
Atau sesuatu.
BAB 12 — PERAWAT BERBAJU MERAH
Mereka menyusuri lorong yang seakan tak punya ujung. Dinding perlahan berubah warna, dari putih kusam menjadi merah muda samar… lalu merah pekat seperti daging.
Ferdi memaki. “Ini tempat masih kategori rumah sakit atau udah masuk kategori perut monster??”
Raina tidak jawab.
Karena di tengah lorong berdiri sosok perawat berbaju merah. Bukan putih. Merah darah. Seragam penuh noda.
Wajahnya sedikit terlihat—lebih jelas dari perawat tanpa wajah sebelumnya.
Perawat itu tersenyum lembut.
“Raina… akhirnya kau datang lagi.”
Raina menegang. “Kau siapa?”
Perawat itu menatapnya penuh iba.
“Aku salah satu dari mereka yang gagal melarikan diri.”
Ferdi menatap kamera. “S—salah satu dari apa?”
Perawat itu mendekat, langkahnya seperti melayang.
“Korban eksperimen tujuh.”
Ia menunjuk ke arah dinding.
Muncul gambar samar, seperti proyeksi: pasien-pasien dipaksa masuk ke ruang operasi, dirantai, diberi obat-obatan aneh.
“Tapi kalian bukan korban biasa,” katanya pelan.
“Kalian dipanggil karena punya hubungan darah dengan subjek utama.”
Raina menegang.
“Apa maksudmu?”
Perawat itu tersenyum lebih lebar.
“Subjek utama… adalah adikmu.”
BAB 13 — KEBENARAN TENTANG ADELA
Pernafasan Raina berhenti sejenak.
“Adela… korban utama eksperimen? Tidak mungkin. Dia perawat magang.”
Perawat merah itu menggeleng.
“Adela tidak pernah jadi perawat. Dia pasien.”
Ferdi hampir menjatuhkan kamera.
“APA?”
Raina membeku. “Kau bohong… Adela cerita banyak. Dia cerita tentang pasien, dokter, jadwal—”
“Tentu saja,” perawat itu memotong.
“Entitas 07 bisa meniru ingatan, suara, cara bicara. Adela tidak bicara denganmu sejak lama.”
Raina jatuh berlutut.
“Tidak… tidak…”
Perawat itu menyentuh bahunya dengan tangan dingin.
“Kasihan sekali. Kau terus datang ke rumah sakit ini dulu… tanpa sadar berbicara dengan tiruannya.”
Ferdi berbisik.
“Ra… kalau gitu Adela yang asli di mana?”
Perawat merah melihat lorong gelap.
“Masih di sini. Tapi tidak lagi utuh.”
BAB 14 — RUANG LABORATORIUM TERSEMBUNYI
Mereka mengikuti perawat merah menuju pintu besi besar yang berkarat. Ia membuka pintunya dengan gerakan pelan seperti ritual.
Di dalam, ruangan itu penuh peralatan medis zaman dulu. Tangki kaca besar, kabel-kabel, meja operasi bersinar lembut.
Di salah satu tangki, terlihat sesuatu terendam.
Raina mendekat.
Tubuh seorang gadis.
Wajahnya pucat. Mata tertutup. Rambut mengambang.
“Adela…” suara Raina pecah.
Perawat itu menunduk.
“Itu tubuh Adela. Dia tidak pernah meninggalkan tangki ini sejak malam ia ditangkap.”
Ferdi memegang mulut. “Kalau begitu… siapa yang selama ini—”
“Nak,” perawat itu menatap mereka. “Yang mengejar kalian… bukan saudaramu.”
Raina menempelkan tangannya ke kaca. “Adela… maafkan aku…”
Tiba-tiba mata Adela terbuka.
Menyala putih.
BAB 15 — KEBANGUNAN YANG SALAH
Tangki bergetar hebat. Air beriak. Kabel berloncatan.
Ferdi mundur cepat. “RA, KITA CABUT!”
Adela di dalam tangki membuka mulutnya lebar—terlalu lebar. Gelombang suara aneh keluar.
“Aaaa—aaAA—AAAHHH—”
Tangki retak.
Raina mencoba mematikan mesin. “Ada tombol shutdown, tapi—”
Perawat merah menahan tangannya.
“Jangan! Kalau dimatikan tanpa prosedur, entitas akan—”
BRAAAK!
Tangki pecah.
Air menyembur.
Adela—atau sesuatu yang masih menyerupai Adela—jatuh ke lantai, gemetar, merangkak seperti hewan liar.
Raina mendekat.
Ferdi menjerit, “RA, JANGAN MEND—”
Telat.
Adela meraih kaki Raina.
“Ka… kak… tolong…”
Suaranya setengah manusia, setengah bergaung seperti dua suara bertumpuk.
“Aku… dingin…”
Raina menangis. “Aku di sini… aku di sini, Del…”
Adela menatapnya.
Lalu senyumnya berubah menjadi senyum lebar tak manusiawi.
“Dan kau akan menyusulku.”
BAB 16 — PEMBAGIAN JIWA
Lorong-lorong bergetar. Lampu berkedip-kedip.
Entitas yang meniru Adela merangkak cepat ke arah dinding dan memanjat seperti seekor predator.
Perawat merah mendorong Raina ke belakang.
“Dengar aku! Entitas 07 bukan hanya membuat tiruan… dia membagi jiwanya ke tubuh korban untuk bertahan hidup!”
Raina menatapnya. “Apakah itu berarti Adela masih hidup?!”
“Ya, tapi sangat sedikit… dia terikat dengan entitasnya. Kalau entitas mati—jiwa Adela lenyap.”
Raina gemetar. “Jadi kita harus—”
“—pisahkan mereka tanpa membunuh salah satunya,” ujar perawat itu.
Ferdi mengumpat panjang. “Gila. Ini misi bunuh diri!”
Entitas Adela berteriak.
Suara kaca pecah. Logam terpuntir.
Dia bergerak dengan kecepatan luar biasa menuju mereka.
BAB 17 — PENGAKUAN PERAWAT MERAH
Mereka berlari melewati koridor sempit. Suara entitas menggedor dinding terus mengikuti.
“Ke ruang penstabilan!” teriak perawat merah.
Raina menahan bahunya. “Kenapa kau bantu kami?!”
Perawat merah akhirnya berhenti, menatapnya dengan wajah penuh luka lama.
“Karena aku dulu… perawat yang gagal menyelamatkan Adela.”
Raina terdiam.
“Aku… yang memasukkan namanya ke daftar percobaan. Aku pikir dia hanya akan menjalani tes ringan. Ternyata… direktur merombak semua protokol.”
Perawat itu menangis tanpa suara. “Aku… penyebabnya.”
Lorong kembali bergetar.
Entitas Adela muncul di ujung lorong, merangkak cepat.
Wajahnya berubah bentuk berkali-kali. Dari Adela kecil. Adela remaja. Adela yang menangis. Adela yang tersenyum. Adela yang hancur.
“Mereka… datang lagi…” gumam Ferdi.
BAB 18 — MESIN PEMISAHAN
Mereka tiba di ruangan besar penuh kabel dan lampu berkedip. Mesin berbentuk kapsul berdiri di tengah.
Perawat merah menyalakannya.
“Ini… mesin pemisahan. Dulu digunakan untuk memisahkan gangguan identitas pasien. Tapi jika dipaksa, bisa memisahkan entitas dari tubuh manusia.”
Raina menatapnya serius.
“Masukkan aku.”
Ferdi terkejut. “APA?! Lo MAU MATI?!”
“Adela terikat denganku.”
Air mata mengalir.
“Entitas memanggilku karena ia butuh wadah baru. Kalau aku masuk… aku bisa menarik dia menjauh dari Adela.”
Entitas Adela sudah di pintu.
Perawat merah mengangguk lirih. “Kau sangat mirip dengan adikmu. Sama keras kepala.”
Raina tersenyum tipis.
“Aku kakaknya.”
BAB 19 — PISAH… ATAU MATI BERSAMA
Raina masuk kapsul. Pintu tertutup.
Lampu-lampu menyala di sekeliling tubuhnya.
Ferdi menekan tombol aktivasi sambil menangis. “Rai… bertahan… gue mohon…”
Entitas melompat ke atas kapsul, mencakar logam dengan kekuatan luar biasa.
“KAU MILIKKU!” suaranya bergaung tiga lapis.
Raina menutup mata.
“Del… aku di sini…”
Perawat merah membaca panel. “Entitas mulai terpecah! Bertahan sebentar lagi!”
Adela asli muncul dari balik lorong, tubuhnya lemah, merangkak sambil menangis.
“Kak… jangan… dia akan mengambilmu…”
Raina tersenyum dari dalam kapsul.
“Aku lebih takut kehilangan kamu.”
Mesin mencapai batas maksimum.
Cahaya putih meledak.
Entitas menjerit—suara paling menusuk yang pernah terdengar.
Kapsul pecah.
Ferdi terpental. Perawat merah terhempas.
Dan di tengah cahaya… ada dua sosok jatuh:
Raina.
Dan Adela.
BAB 20 — TWIST BESAR: YANG KEMBALI BUKAN SATU
Raina membuka mata perlahan.
Ferdi berlari menghampiri. “RA! KAU HIDUP!”
Adela duduk pelan, wajahnya bersih—tanpa gangguan, tanpa perubahan bentuk.
“Kak…?” suaranya lembut. “Aku… merasa bebas…”
Raina memeluknya. “Akhirnya… kau kembali…”
Perawat merah tersenyum lega. “Entitas telah dip—”
Ia terdiam.
Ferdi menegang. “Kenapa?”
Perawat merah mundur.
“Tubuh… dua…” katanya pelan.
“Mereka berdua… masih hidup… tapi…”
Raina menatapnya bingung.
“Ada apa?”
Perawat itu menunjuk ke lantai.
Bayangan Raina dan Adela di lantai…
tidak bergerak sesuai tubuh mereka.
Bayangan itu berdiri sendiri, menatap mereka.
Bayangan Raina tersenyum perlahan…
Bayangan Adela tertawa kecil…
Lalu kedua bayangan itu saling memegang tangan…
Dan berbisik dengan suara entitas:
“Pisah bukan berarti pergi. Kami cuma butuh tubuh… yang lebih baik.”
Ferdi menjerit.
Lampu mati TOTAL.
CERITA BELUM SELESAI.

Komentar
Posting Komentar